Ironi Negeri Kaya tapi Miskin


 KEMISKINAN ACEH

Ironi Negeri Kaya tapi Miskin

20140415-DRI-04

Gambar 1. Riki lima tahun usianya, juru parkir pekerjaannya. Anak-anak di usia sebayaku masih asik bermain paling tidak di Taman Kanak-Kanak. Namun, aku tidak. Aku banyak menghabiskan hari-hari ku di jalan bersama teriknya matahari dan panasnya aspal hitam.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal.

Begitulah sepenggal lirik lagu ”Sore Tugu Pancoran” karya musisi Iwan Fals yang persis mengambarkan kondisi Riki, bocah laki-laki berusia lima tahun yang bekerja sebagai tukang parkir di kawasan Jalan Muhammad Jam, Banda Aceh. Baca lebih lanjut

5 Komentar

Filed under Berita Dari Aceh

Lima Tahun Berjuang Mencari Keadilan


SISI KEMANUSIAAN

Lima Tahun Berjuang Mencari Keadilan

(By Adrian Fajriansyah, Sabtu, 12 Oktober 2013)

Yermias Silkaty (66) tinggal di Jakarta. Ditinggalkan kampung halamannya di Desa Oirata, Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, Maluku. Tujuannya, mencari keadilan atas kasus kematian anaknya yang terjadi lima tahun silam. Demikian keterangannya saat ditemui di kantor pusat partai politik berlogo banteng, Jakarta Selatan, Kamis sore (26/9).

Yermias Silkaty (66) tinggal di Jakarta. Ditinggalkan kampung halamannya di Desa Oirata, Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, Maluku. Tujuannya, mencari keadilan atas kasus kematian anaknya yang terjadi lima tahun silam. Demikian keterangannya saat ditemui di kantor pusat partai politik berlogo banteng, Jakarta Selatan, Kamis sore (26/9).

Sembilan bulan sudah Yermias Silkaty (66) tinggal di Jakarta. Ditinggalkan kampung halamannya di Desa Oirata, Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, Maluku. Tujuannya, mencari keadilan atas kasus kematian anaknya yang terjadi lima tahun silam. Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Berita Dari Jakarta

Sendirian Mengarung Lautan dan Membangkitkan Kebaharian


Lintas Jakarta-Brunei

Sendirian Mengarung Lautan dan Membangkitkan Kebaharian
(By Adrian Fajriansyah 20/05/2013)

Daeng Effendy Soleman melambaikan tangan kepada sejumlah orang yang melepas pelayaran tunggalnya dari Jakarta-Bruneidengan Perahu Jukung khas Bali medio Mei 2013 lalu.

Gambar 1. Daeng Effendy Soleman melambaikan tangan kepada sejumlah orang yang melepas pelayaran tunggalnya dari Jakarta-Brunei dengan Perahu Jukung khas Bali medio Mei 2013 lalu.

Dari pinggir laut, Pantai Ancol, sejumlah kerabat dan keluarga melambaikan tangan. Mereka melepas Effendy Soleman (62) yang akan melakukan pelayaran tunggal. dengan Perahu Jukung khas Bali, dari Jakarta ke Brunei Darussalam. Tampak Gustia Ningsih (24) dan Mala Soleman (5), isteri dan anak Effendy, turut melepasnya. Walaupun gelisah, Gustia tetap tegar, sebab ini bukan pelayaran tunggal pertama yang dilakukan suaminya. Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Cinta Indonesia, Wisata Alam Indonesia, Wisata Jakarta, Wisata Sejarah Indonesia, Wisata Sejarah Jakarta