Lemparan Terjauh


LEMPARAN TERJAUH
(Lontarkanlah dirimu ke tempat terjauh dari tempat mu tegak saat ini agar kau dapat merasakan sungguh luar biasanya keindahan dan keagungan ciptaan Allah SWT,sesungguhnya Allah telah menciptakan dunia dan mahluk di dalamnya dengan sesempurnanya ciptaan)

Boro-boro mau ke luar negeri, jalan-jalan paling jauh saja yang pernah aku singgahin adalah ke Tanjung Karang, Bandar Lampung. Ke Lampung itu pun bukan untuk tujuan jalan-jalan akan tetapi mau menghadiri acara pernikahan sepupuhku.

Sampai akhirnya di bulan September tahun 2009 Tante Eka dan Om Eko mengajakku untuk pergi ke Binjai, Sumatera Utara. Sungguh sangat beruntung hidupku, disaat aku cuma bisa melihat keindahan alam Sumatera Utara lewat TV dan foto-foto dimajalah pariwisata, saat itu aku mendapatkan kesempatan gratis ke sana (aku tidak menolak waktu tawaran pertama diajukan pada ku, aku langsung bilang “yah aku mau”).

Inilah enaknya kalau kita punya keluarga yang tinggal di daerah yang jauh dari tempat kita, kalau kita ingin pergi ke sana kita bisa numpang dan itu gratis. ^_^

Om Eko suami dari Tante Eka adalah orang Jawa yang lahir dan di besarkan di Binjai, Sumatera Utara. Istilahnya Om Eko adalah PUJAKESUMA (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Sudah dari kakek moyangnnya keluarga Om Eko tinggal di Binjai. Binjai sendiri terkenal sebagai daerah yang paling multi etnis di Sumatera Utara setelah Medan.

Sudah lebih dari 5 tahun Om eko tidak ke tanah kelahirannya. Dikesempatan lebaran tahun 2009 itu dia berencana untuk pulang kampung ke Binjai. Nah inilah yang menjadi awal dari diajaknya aku ke sana. Aku diajak untuk menemani keberangkatan keluarga Tante ku itu ke Binjai, karena keluarga Tante Eka ku  semua anak-anaknya masih kecil-kecil,tugas ku adalah menemani keberangkatan dan mengasuh anak-anaknya, (aku ikhlas melakukannya) kebetulan anak-anak Tante Eka Ku sangat senang diasuh oleh ku karena dari mereka bayi akulah yang mengendong dan kadang menidurkan mereka.Inilah enaknya menjadi orang yang disukai anak kecil (kemana-mana selalu ingin ditemani aku.. hehehe).

Keberangkatan ke Binjai waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan 1430 Hijriah dan kami memeng berencana untuk merayakan hari Raya Idul Fitri di sana.

Berangkat ke Binjai kami tempuh lewat jalan darat, tempatnya melalui jalur lintas timur Sumatera.Itulah perjalanan terjauh pertama yang pernah aku tempuh dan itulah pertama kalinya aku melalui jalur lintas timur Sumatera.

Senang rasanya bisa ikut perjalanan itu, lewat perjalanan itulah aku lebih bisa mengenal dunia, aku bisa melihat keindahan alam Indonesia, pengalaman ku benar-benar bertambah karena ikut perjalanan ini (sebelumnya aku hanya berkutat di daerah Sumsel ampe Lampung doank).

Jambi adalah provinsi ke tiga yang pernah aku singgahi, setelah Sumatera Selatan dan Lampung. Benar-benar beruntung sekali aku dapat kesempatan diajak jalan-jalan gratis ini aku bisa melihat daerah-daerah lain di Indonesia selain Sumsel dan Lampung (dengan perjalanan itu aku bisa mengenal lebih jauh tentang Indonesia dan keindahan alamnya).

Di Jambi. Jambi itu sebuah provinsi yang berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Selatan, kalau dari pengamatanku selama pejalanan melewati Jambi,Jambi itu sebuah daerah yang sedang berkembang, kehidupan di sana hampir mirip dengan yang ada di Palembang dan bahasa sehari-hari yang mereka gunakan pun hampir mirip dengan yang dipakai oleh orang Palembang. Tempat terkeren yang aku lewati di Jambi hanyalah Jembatan Batang Hari kebangganannya orang Jambi, dari bentuknya jembatan Batang Hari hampir mirip dengan Jembatan Musi Dua di Palembang (aku hanya lewat doank kota Jambi jadi gak bisa mengeksplor lebih jauh tentang daerah itu).

Terus, perjalanan selanjutnya, provinsi ke empat yang pernah aku singgahi  atau daerah selanjutnya yang kami lewati untuk menujuh ke Binjai adalah Provinsi Riau. Riau adalah daerah yang hampir sepanjang jalan yang aku lewati banyak terdapat kebun sawit dan tambang minyak. Selain itu yang unik saat berada di Riau kita bisa mendapatkan gelombang radio dari Malaysia dam Singapura, (waah aneh banget deh bagi aku pengalaman satu ini,karena baru sekali itu aku mendengarkan siaran radio asing asal Malaysia dan Siangapura). Hampir semua gelombang radio yang kami dapat selama diperjalanan adalah radio Malaysia dan Singapura dan tahukah kalian kalau hampir semua lagu yang didengarkan adalah lagu-lagu Indonesia (waah bangga banget deh aku sebagai orang Indonesia).

Riau itu provinsi yang mayoritas penduduknya beretnis Melayu dan berbahasa Melayu. Bahasa yang mereka pakai sehari-hari adalah bahasa Melayu yang hampir mirip dengan yang dipakai di Brunei dan Malaysia. Suasana Melayu sangat terasa saat kita berada di kota Pekanbaru Riau, gedung-gedung perkantoran dan swasta yang berada di sana bermotif ukiran Melayu (indah banget deh pokoknya). Apalagi masjid-masjidnya,waah masjid-masjid yang ada di Riau itu keren-keren banget, arsitektur gedung masjidnya kayak yang ada di Arab keren dan megah sekali. Wajar saja kalau Pekanbaru mampu untuk membangun gedung-gedung yang indah dan megah karena daerah ini merupakan provinsi terkaya di Indonesia yang mayoritas dana APBDnya didapat dari kekayaan alamnya berupa minyak ditambah lagi dengan benyaknya kebun sawit disana yang juga merupakan daerah yang memiliki jumlah kebun sawit terluas di Indonesia, jadi sudah sewajarnya daerah ini membangun dan membenahi diri untuk mengejar ketertinggalan mereka dari daerah-daerah lain di Indonesia yang sudah lebih dulu maju.

Tempat selanjutnya adalah Sumatera Utara yang merupakan inti perjalanan kami dan merupakan provinsi ke lima di Indonesia yang pernah aku singgahin (pada saat itu). Wah Sumatera Utara adalah tempat yang sangat indah, alamnya lengkap mulai dari pantai, sungai, danau dan pegunungan ada disana yang mejadikan daerah ini sebagai salah satu pusat pariwisata terindah di Indonesia bahkan dunia yang wajib untuk dikunjungin oleh orang-orang yang hobi jalan-jalan macam aku ini.

Sampai di Medan kami langsung menujuh ke Binjai. Medan ke Binjai memakan waktu 30 menit kurang lebih. Sampai ke Binjai kami langsung ke rumah orang tuanya Om Eko untuk bersilahturahmi, lalu kami menginap di rumah kakak tertua dari Om Eko. Aku menghabiskan 3 hari puasa terakhir di sana dan merayakan hari Raya Lebaran Idul Fitri juga disana, inilah untuk pertama kalinya aku merayakan hari raya Idul Fitri tidak dengan orang tua ku. Merayakan hari Idul Fitri di tempat orang benar-benar mengasikan aku tidak canggung atau pun aneh dengan suasana di sana karena semua orang di sana ramah-ramah dan juga cepat akrab denganku sehingga membuatku betah untuk tinggal disana (pokoknya serasa tinggal di rumah sendiri saja).

Kami melaksanakan sholat Id di Masijd Agung kota Binjai, sehabis sholat kamiber silahturahmi ke rumah sanak-dulur Om Eko.

Esok harinya kami jalan-jalan menikmati suasana Kota Medan, kami menikmati ramainya kota Medan yang sangat besar, kami pergi ke tempat-tempat wisata Kota Medan macam Klenteng Kota Medan, Jalan Merdeka Kota Medan, terus ke Istana Maimun yang merupakan tempat yang sangat aku inginkan untuk ke sana.

Tadinya aku kira Museum Istana Maimun itu sangat luas sekali, dan ternyata apa yang aku dapat isi museumnya sangat sedikit karena hanya sebagian dari Istana saja yang dibolehkan untuk disinggahi dan tempat lainnya tidak boleh untuk dimasuki karena masih digunakan oleh keluarga kerajaan sebagai tempat tinggal mereka. Mungkin kalau boleh aku ambil pembanding  Museum Istana Maimun hampir sama dengan isi di dalam Museum Sultan Mahmud BadaruddinII (koleksinya kurang lengkap.. ehmm).

Menikmati Kota Medan dan segala macam yang ada di dalamnya sungguh menarik karena Kota Medan adalah kota yang sangat multi etnis, di sana terdapat etnis India, Arab, Cina,Melayu dan Lokal, yang menjadikan kota ini sangat ramah karena kemajemukan orang yang ada di dalamnya mampu menjaga toleransi antar etnis. Asik sekali pokoknya, Kota Medan adalah kota yang sangat besar yang menjadikan kota ini sebagai kota terbesar di Pulau Sumatera. Satu lagi yang tidak bisa aku lupakan dari Kota Medan adalah wisata kulinernya sangat beragam sekali, tapi yang paling aku suka adalah Mie Aceh di Jalan Sytia Budi (yang sangat laris manis,jam 1 siang aja mienya udah abis, konon katanya itulah tempat jual Mie Aceh terenak di Kota Medan,,, hehehe).

Setelah asik menikmati Kota Medan, esoknya dan inilah hari yang paling mengasikan, kami sekeluarga Om Eko pergi rekreasi bersama ke Danau Toba,, (yuhuu mantap bangetdeh). Waaww,, Danau Toba sungguh indah, sungguh beruntung nasibku yang dulunya cuma bisa nonton TV dan liat foto Danau Toba di majalah-majalah pariwisata dan hanya berkhayal untuk ke sana, tapi saat itu aku bisa berada di sana gratis pula ahh indahnya dunia ini. Danau Toba hanya 3 jam kurang lebih dari Medan, sepanjang perjalanan ke sana kita akan disuguhi keindahan alam pegunungan dimana banyak terdapat kebun-kebun buah dan pohon pinus yang sangat indah pokoknya saat itu tidak berasa di Indonesia deh kayak di Eropa gitu.. hehehe

Waktu pertama kali aku melihat Danau Toba aku sangat takjub sekali, bagaimana tidak takjub Danau Toba itu sangat luas sekali bahkan aku pikir itu laut bukan danau, pantas saja Danau Toba menjadi danau terluas di Asia Tenggara karena Danau Toba memang sangat luas sekali seperti laut, dan tentunnya sangat indah. Pokoknya tidak ada kata lain selain takjub dan subhanAllah, sungguh luar biasa ciptaan Allah SWT tiada bandingnya deh, benar-benar Allah adalah pelukis Termaha hebat, lukisan alamnya sangat indah sekali, birunya air danau yang terpantul dari refleksi pancaran cahaya kebiruan dari langit ditambah dengan landscape perbukitan yang hijau mengelilingi Danau Vulcanik itu membuat semakin lengkapnya keindahanyang disuguhkan oleh Danau Raksasa ini.

Itu saat berada di ujung jalan menujuh Danau Toba (Danau Toba berada di ujung lagi di kaki bukit), untuk menuju ke danau kami harus melewati jalan yang berlika-liku, berbelok-belok, dan menikuk-nikuk (menikung-nikung). Perjalanan yang ekstrim itu tidak lah mengurangin keasikan dan kenikmatan perjalanan tersebut karena sepanjang perjalanan kami disuguhi keindahan alam sekitar Danau Toba yang sangat luar biasa.

Sampai ke Danau Toba tepatnya di Kota Prapat kami langsung beristirahat ke Villa PTPN II. Waahh, alhamdullillah banget aku diberikan kesempatan tidur di villa pejabat PTPN II itu, villanya sangat bagus sekali, kamar tidurnya besar (itulah kamar tidur terbesar yang pernah aku tempati hahaha), kasurnya empuk, dan yang lebih fantastic adalah villa itu langsung menghadap Danau Toba dan di halaman villa tersebut ada pantai buatan pribadi punya PTPN II (wwaah keren banget deh).

Malam hari di Danau Toba tidak aku habiskan untuk beristirahat melainkan aku gunakan untuk menikmati suasana malam di Kota Prapat sekitar Danau Toba yang sangat indah dan ramai dipenuhi oleh para wisatawan baik asing maupun manca Negara. Di Prapat itu suhunya dingin banget deh mungkin suhunya dibawah 10 derajat sampai-sampai dua buah jaket saja tidak mempan melawan dinginnya kota itu, wajar saja daerah ini dingin karena daerah ini berada di dataran tinggi dan dikelilingi oleh pegunungan, apalagi ditambah hembusan angin dari Danau Toba yang benar-benar menusuk tulang. Malam itu adalah malam yang tak akan aku lupakan sepanjang hidupku, indah banget, suasana ramai Kota Prapat sangat membuatku ingin terus berada di sana. Keliling kota menikmati suasan malam di pinggir Danau, bercengkrama dengan wisatawan asing dan minum bandrek anget di tempat yang sangat dingin, asik banget pokoknya (kapan yah bisa kesana lagi, pokoknya aku harus kesana lagi).

Setelah puas menikmati suasana malam di Kota Prapat kami istirahat. Keesokan paginya kami langsung mandi, dan mandinya bukan di kamar mandi tapi di Danau Toba, (yah kami mandi di Danau Toba) dan juga menikmati pantai buatan pribadi punya PTPN II di pagi hari, udarahnya segar banget deh, heeemmm,, rasa sejuk udarah Danau Toba di pagi hari masih kerasa banget deh di hidung ini, bahkan sekarang pun aku masih bisa merasakannya,, segar.. ohh ya yang tidak kalah penting untuk diketahui air di Daerah Prapat itu terutama air Danau Toba dinginnya bukan main, sangkin dinginnya kalau kita buka pintu kamar mandi hembusan angin dingin seperti di lemari es begitu terasa, bahkan kalau diperhatiin air di dalam kamar mandi tersebut mengeluarkan embun sangkin dinginnya.

Sehabis asik menikmati bermain-main air di Danau Toba, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Samosir. Pulau Samosir adalah pulau yang berada ditengah-tengah Danau Toba, kami pergi ke Pulau Samosir menggunakan kapal nelayan yang banyak tersediah di sana. Saat mau menuju ke Pulau Samosir kami terlebih dahulu disinggahi ke Batu Gantung yang sangat legendaries disana, “konon katanya dahulu ada seorang putri yang dipaksa menikah oleh ayahnya dengan laki-laki yang dia tidak cintai, si putri kemudian pergi ke sebuah goa, kemudian dia tinggal disana untuk waktu yang lama, berpuluh-puluh tahun kemudian di goa yang dulu merupakan tempat tinggal si putri tadi muncul sebuah batu yang tergantung, nah inilah yang kata orang setempat merupakan batu jelmaan putri itu, yang sekarang disebut batu gantung karena posisinya tergantung disebuah tebing”. Setelah singgah ke Batu Gantung kami terus melanjutkan perjalanan ke Pulau Samosir yang memakan waktu kurang lebih 30 menit. Pulau Samosir merupakan pulau yang didiami oleh banyak orang Batak Toba, disana banyak terdapat peninggalan Megalitikum dan rumah-rumah adat orang Samosir. Salah satu peninggalan Megalitikum di sana diyakini sebagai makam dari Raja Sidabutar. Kalau di komplek rumah adat Samosir ada patung Sigale-gale yang sering dipertunjukkan untuk wisatawan yang berkunjung ke sana. Di Pulau Samosir banyak sekali pedagang yang menjual cindramata khas Danau Toba mulai dari yang mahal hingga yang murah, (saran dari aku kita harus pandai menawar saat membeli cindramata di sana dan menurut aku lebih baik beli di Pulau Samosir dari pada di Prapat karena justru harga di Prapat lebih mahal dibandingkan di Samosir padahal daerah tersebut jaraknya hanya 30 menit menggunakan kapal, aneh kan??).

Puas menikmati Pulau Samosir kami pulang kembali ke Prapat, sebenarnya kami sudah diingatkan oleh nelayan agar pulang setelah 1 jam menikmati Samosir, karena saat itu cuaca sedang buruk jadi kami diharapkan untuk segera pulang dalam waktu satu jam, tapi karena kami ceroboh dan tidak mematuhi nasihat kami pulang kembali ke kapal satu setengah  jam kemudian dan ini bukan kami saja hampir semua penumpang kapal datang satu setengah jam kemudian. Saat kami pulang cuaca sudah semakin buruk, angin kencang dan ombak tinggi apalagi ditambah kapal yang kami naiki tidak terlalu besar sehingga air ombak yang besar itu sesekali masuk ke lambung kapal membuat para penumpang di kapal panik dan histeris. Inilah balasan bagi kami yang tidak mematuhi perintah, kami harus menanggung keadaan yang sangat mencengkam tersebut akibat kecerobohan kami, semua penumpang di kapal panik dan mulut mereka komat-kamit (termasuk aku), aku pun sudah membayangkan bagaimana jadinya bila kapal ini terbalik karena aku tidak bisa berenang (aahh mungkin aku akan mati di sini dan aku tidak akan bisa melihat kedua orang tua ku lagi) itu yang ada di dalam benak ku saat itu.

Kapal yang berada di tengah-tengah danau berjalan sangat lamban karena ombak sangat tinggi dan angin sangat kencang, tidak mungkin bagi kapal ini untuk menambah kecepatannya (kalau kami semua di dalam kapal itu tidak mau terbalik dan tenggelam), jadilah kami harus terguncang-guncang di dalam kapal lebih dari 1jam, (nah di sanalah aku pernah update status di FB “ya allah selamatkan lah aku”..hahaha).. ahh pokonya sangat mencegkam.. Kapal itu serasa akan terbalik karena guncangan dari ombak sangat luar biasa, kami harus terdorong ke kiri dan ke kanan dengan sangat kuat, baju/pakaian kami basah semua karena cipratan air danau yang terhembus angin kencang.  Setelah 1 jam lebih di kapal itu kami pun sampai di dermaga Prapat, rasanya saat itu sangat menyenangkan, injakkan kaki pertama di darat sungguh sangat kami syukuri. “Awal berangkat  yang tadinya disambut dengan suka cita tapi saat pulang wajah kami dipenuhi dengan rasa takut dan pucat basi”, karena kecemasan yang sangat luar biasa selama di atas kapal,sampai-sampai tante ku berkata “cukup satu kali ini saja aku pergi ke Samosir”, yah benar saja tanteku berkata demikian karena saat itu mememang telah membuat kami semua traumah untuk naik kapal lagi.. hahaha

Hanya dua hari di Prapat, kami pulang lagi ke Binjai. Untuk beristirahat dan menikmati Binjai.

Sebelum pulang ke Palembang, kami menyempatkan untuk jalan-jalan ke Brastagi yang berjarak 2 jam kurang lebih dari Medan. Ke Brastagi sebenarnya tidak masuk dalam list jalan-jalannya Tante Eka tapi karena dia ibah melihat diriku yang sangat ingin ke sana, akhirnya dia bela-belain untuk ke sana sebelum pulang ke Palembang, (seneng banget deh punya tante yang sangat sayang dengan aku, aku jadi bangga punya tante yang kayak dia.. hehehe).

Dua hari sebelum pulang ke Palembang, kami sekeluarga Om Eko pergi ke Brastagi atas keinginanku yang direalisasikan oleh Tante Eka ku. Sungguh beruntung orang yang tinggal di Medan karena mereka tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati keindahan alam, kalau mau ke pantai ada tinggal pergi ke daerah sebelum medan yang berjarak sekita dua jam dari Medan, mau ke Danau Toba cuma sekita empat jam dari Medan, mau ke Pegunungan Brastagi cuma dua jam dari Medan, jadi intinya orang Medan gak bakal bosen menjalani hidup di sana karena kalau mau rekreasi tidak perlu pergi jauh-jauh karena di dekat sana banyak tersediah tempat pariwisata, bandingkan dengan Palembang yang kalau mau ke daerah pegunungan (Pagar Alam) harus menempuh jarak kurang lebih 7 jam dari Palembang (dan kalau sudah sampai langsung lelap tertidur karena kecapekan di jalan,,, hufffhh), mau ke pantai di Sumsel gak ada pantai kalii, yang ada palingan Sungai Musi tapi gakpapa yang penting ada dan kami orang Palembang bangga kali dengan Sungai Musi.. hehehe.

Brastagi adalah daerah pegunungan yang sangat asrih, di sana banyak kebun sayuran dan buah-buhanan, tempatnya juga sangat sejuk dan dingin, terus air di sana lagi-lagi sangat dingin, mirip dengan di Prapat Danau Toba air di Brastagi juga membuat kamar mandi seperti Lemari ES sangkin dinginnya.. hehe

Di Brastagi lagi-lagi kami menginap di villa PTPN II, ohh ya mengapa kami selalu menginap di Villa PTPN II karena kakak dari Om Eko adalah pegawai menegah atas di PTPN II yang cukup disegani sehingga kalau ada keperluan mencangkup tempat tinggal kami tinggal calling kakak dari Om Eko untuk disediahkan tempat tinggal berupa villa PTPN II dan itu gratis.. hahaha.

Enak betul rasanya menikmati liburan gratis. Tempat tinggal kami di Brastagi menghadap langsung dengan Gunung (tapi aku lupa apa namanya), halaman rumahnya sangat luas dan asrih yang dikelilingi banyak pohon rindang dan rumput jepang yang terawat rapi sekali, kami bisa tidur-tiduran dengan nyaman di halaman villa tersebut sambil menikmati indahnya pemandangan di depan kami yang dikelilingi kebun dan Gunung yang gagah. Kenikmatan berada di Brastagi sungguh terasa sangat cepat karena tempat itu begitu mempesona dan indah sehingga membuat betah siapa saja yang tinggal di sana. Esok harinya kami singgah lagi di Binjai tempat kakaknya dari Om Eko untuk beristirahat sehari sebelum kembali pulang ke Palembang. Setelah berpamitan dengan seluruh keluarga dan orang tua Om Eko kami pulang lagi ke Palembang.

Liburan ku selama 14 hari di Sumatera Utara sungguh indah. Benar-benar aku bisa merasakan betapa agungnya ciptaan Allah SWT. Lukisan alam yang indah ini hedaknya harus kita jaga agar nanti anak cucung kita juga bisa merasakannya. Jangan sampai semua yang ada saat ini rusak dan hilang di masa depan.

Dari perjalanan inilah aku niatkan pada diri ini untuk bisa pergi keliling Indonesia dan Dunia, agar aku lebih bisa mengenal dunia dan merasakan ke Agungan ciptaan Allah SWT yang lain yang masih banyak lagi. Sungguh sangat disayangkan kalau Allah SWT telah menciptakan alam yang sangat indah ini tapi tidak pernah untuk kita rasakan dan nikmati sampai kita mati kelak (tapi ingat kalau sudah menikmati jangan dirusak, harus dijaga agar yang lain juga bisa menikmatinya kelak). Jadi dari saat ini mari niatkan untuk pergi mengunjungin tempat-tempatindah ciptaan Sang Maha Kuasa agar hati ini bisa lebih bergetar merasakan ke Agungan-Nya lewat ciptaan-Nya yang tiada tara.. Allah Hu Akbar..  Merdeka ??? (Benyamin Sueb Mode On)… ^o^

By Adrian Fajriansyah (14/08/2010) -adrianbiger.blogspot.com-

Teruntuk Tante Eka dan Om Eko serta semua sepupuh-pupuhku yang dengan senang hati telah mengajak aku ikut pergi menikmati indahnya alam ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Aku akan mengingat semua kebaikan kalian, dan suatu hari kelak kalau aku suksesakan ku ajak kalian semua ke tempat-tempat terindah di Dunia.. ^_^

Kejadian ini terjadi di 15 September – 2 Oktober Tahun 2009, bertepatan dengan bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1430 Hijriah.

Suasana tandus saat sawit-sawit tua ditebang di sepanjang jalan dari Riau ke Sumut 
Sholat ID bersama di Masjid Agung Binjai 
Suasana di dalam Istana Maimun 
Landscape di atas Danau Toba 
Suasana di pingir danau Toba 
Batu Gantung 
Rumah adat samosir
Villa di brastagi 
Suasana halaman villa di Brastagi 
Gunung yang berada di depan villa brastagi

Kebun yang ada di daerah Brastagi,, asrih banget

By adrian fajriansyah 2010

http://adrianbiger.blogspot.com/2010/08/lemparan-terjauh.html

Tinggalkan komentar

Filed under http://fajrithedreamer.deviantart.com/, Kisah Dan Pengalaman Ku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s