Tribute To Franky Sahilatua


Penyuara Orang Pinggiran itu Telah Pergi, Franky

Sahilatua (1953 -2011)

image
Franky Sahilatua (Foto: Antara/Ujang Zailani)
Oleh : Denny Sakrie

JakartaTanah pertiwi anugerah Ilahi
jangan ambil sendiri
tanah pertiwi anugerah Ilahi
jangan makan sendiri

aku heran, aku heran
satu kenyang, seribu kelaparan
aku heran, aku heran
keserakahan diagungkan

Masih terngiang-ngiang suara Franky yang nassal dan tipis itu menyenandungkan “Perahu Retak”, sebuah protest song yang sangat menohok itu. Lagu yang digarapnya bersama budayawan Emha Ainun Nadjib itu seolah anthem yang melatari tumbangnya rezim Orde Baru dan berganti dengan Era Reformasi di tahun 1998.

Franky Hubert Sahilatua telah tiada. Franky menghembuskan nafas terakhir kemarin sore, Selasa 20 April 2011, sekitar jam 15.15 WIB setelah mengidap kanker tulang sumsum. Satu persatu trubadur yang bertutur masalah sosial di negeri ini berpulang ke pangkuan sang Khalik. Kehilangan sosok Franky Sahilatua bagi saya hampir sama dengan berpulangnya Harry Roesli di tahun 2004.

Baik Harry Roesli maupun Franky memiliki daya cipta seni musik yang luar biasa. Mereka berdua mampu menulis lagu yang menghibur pendengaran kita disatu sisi, tapi juga mampu menulis lagu yang menyergah ketimpangan sosial. Keduanya pernah bahu membahu mendukung gerakan Jangan Pilih Politisi Busuk pada tahun 2004 silam.

Sosok Franky seingat saya mulai ditulis media cetak pada sekitar tahun 1976. Saat itu saya membaca kiprahnya dalam duet Franky & Jane di majalah anak muda Aktuil terbitan Bandung. Dari dandanannya yang mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans sambil menenteng case gitar seperti menyiratkan lelaki Maluku kelahiran Surabaya 16 Agustus 1953 ini adalah penggemar musik country, demikian pula Jane Sahilatua, sang adik yang berdandan konservatif.

Saya pertama kali mendengar Franky & Jane bernyanyi melalui album Balada Ali Topan (Duba Record 1978) yang menampilkan lagu-lagu karya Teguh Esha, novelis Ali Topan Anak Jalanan yang mengaku tidak puas dengan soundtrack film “Ali Topan Anak Jalanan” (1977) yang ditulis Guruh Soekarno Putera.

Ketika menyimak suara Franky & Jane menyanyikan “Balada Ali Topan”, saya langsung teringat suara John Denver dan Simon Garfunkel yang berpadu dengan Melanie. Franky dengan timbre vokal yang tipis dan nasal berbaur membentuk harmoni dengan denyut suara Jane yang juga nassal. Karakter unik semacam ini memang cepat mencuri perhatian pendengar dalam industri musik pop. Di album ini Franky tidak menyertakan karyanya satu pun.

Semua lagu di album ini ditulis Teguh Esha. Selain “Balada Ali Topan”, lagu-lagu lainnya kurang mendapat tempat di kuping khalayak. Tetapi setelah Franky & Jane berpindah label ke Jackson Arief barulah aura keberhasilan mengemuka. Di tahun 1979 Franky & Jane merilis album Musim Bunga yang melejitkan hits “Musim Bunga”, ”Bis Kota” dan “Perjalanan”.

Di era ini khazanah musik Indonesia diriuhkan penampilan musik bergaya folk akustik mulai dari Gombloh, Leo Kristi, Ebiet G.Ade, Ritta Ruby Hartland, Elly Sunarya termasuk Iwan Fals, Tom Slepe dan Doel Sumbang. Lirik-lirik genre folk/country ini memang cenderung lugas dan memihak pada kehidupan kaum jelata yang bersesak derita seperti laiknya gelombang artis protest song di belahan barat sana mulai dari Peter Seeger, Bob Dylan, Joan Baez dan seterusnya.

Potret perjuangan kalangan working class saat mencari nafkah tergambar lugas dalam lagu “Bis Kota” misalnya:

Bis kota sudah miring ke kiri
Oleh sesaknya penumpang
Aku terjepit disela-sela
Ketiak para penumpang yang bergantungan

Keunggulan Franky dalam menulis lagu jelas pada pola penulisan lirik. Selain menulis lirik sendiri Franky saat itu memperoleh kontribusi lirik dari Hare dan Yudhistira ANM Massardi. Jadi tak heran lirik menjadi divisi yang dominan dalam proses penulisan lagu-lagu Franky. Ada bongkol sastrawi dalam paparan lirik Franky & Jane termasuk pada saat Franky tampil solo kelak.

Sebuah mahakarya Franky yang tak mungkin terabaikan adalah lagu “Perjalanan” yang tahun lalu didaur ulang oleh Sarasvati, mantan vokalis Homogenic:

Duduk di hadapanku seorang ibu
dengan wajah sendu
penuh rasa haru ia menatapku
seakan ingin memeluk diriku
ia lalu bercerita tentang
anak gadisnya yang t’lah tiada
karna sakit dan tak terobati
yang wajahnya mirip denganku.

Franky Sahilatua memang bukan pionir untuk musik balada dengan ekspresi bertutur. Sebelumnya ada Trio Bimbo yang bahkan berkolaborasi dengan beberapa penyair seperti Wing Kardjo hingga Taufiq Ismail. Juga ada yang terasa agak ekstrim seperti Konser Rakyat Leo Kristi hingga yang terkadang menyusupkan idiom humor seperti Gombloh misalnya.

Leo Kristi dan Gombloh sebetulnya bukanlah sosok asing bagi Franky. Di Surabaya pada awal era 70-an Leo Kristi,Gombloh dan Franky tergabung dalam kelompok folk song bernama Lemon Tree’s. Sebagai catatan antara tahun 1973-1975, anak muda Indonesia tengah keranjingan musik-musik folk.

Di Surabaya, Bandung dan Jakarta saat itu kerap diadakan acara seperti Jambore Folk Songs dengan ciri nyanyi berkelompo mengandalkan petikan gitar akustik yang menggelitik. Di era ini selain Lemon Tree’s, muncul Remy Sylado Company, Prambors Vokal Group, Noor Bersaudara, Gang of Harry Roesli dan masih banyak lagi.

Pada kurun waktu 1992-1993, di saat himpitan atas kebebasan berkreasi mulai dibebat dan dibekap. Suara pemusik yang semula lirih berubah menjadi jeritan yang tak terperikan lagi. Jeritan itu mengkristal di sederet lagu-lagu yang menurut saya adalah protest songs sejati misalnya kolaborasi Franky dan Iwan Fals dalam “Orang Pinggiran” maupun “Terminal” hingga bersama Emha Ainun Nadjib dalam “Perahu Retak”.

Franky pun tetap konsisten. Dia sama sekali tak berubah. Franky peka terhadap lingkungannya hingga akhirnya muncul sebuah sentilan dalam lagu-lagu seperti “Jangan Pilih Mereka” dan “Aku Mau Presiden Baru”. Bahkan sebelum menghembuskan nafas terakhir, Franky Sahilatua masih menulis beberapa lagu dengan tuturan lirik yang tetap bernuansa kritik sosial. Setidaknya ada 4 lagu yang dalam proses penyelesaian yaitu “Anak Tiri Republik”,”Sirkus dan Pangan”, ”Taman Sari Indonesia” dan “Kemiskinan.” Belakangan judul lagu “Anak Tiri Republik,”mulai dipakai dalam perbincangan konstelasi politik.

Selamat jalan bung Franky. Karyamu masih tetap berdentam!

Orang pinggiran Bukan pemalas
Orang pinggiran Pekerja keras
Orang pinggiran Tidak mengeluh
Orang pinggiran Terus melenguh

http://rollingstone.co.id/read/2011/04/21/113402/1622647/1093/penyuara-orang-pinggiran-itu-telah-pergi-franky-sahilatua–1953-2011-?lftheadline

Tinggalkan komentar

Filed under Idola Ku Inspirasi Ku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s