Hut Kota Palembang?


Hut Kota Palembang?

(16 atau 17 Juni dan 682 atau 683 Masehi?)

(By Adrian Fajriansyah 17/06/2012)

Gambar 1.  Peserta lomba perahu bidar sedang beradu kecepatan dalam HUT Kota Palembang di tahun 2012.

Palembang adalah kota tertua di Indonesia.  Palembang dulunya adalah ibu kota dari kerjaan bahari Buddha tersebar se Indonesia dan Asia Tenggara, yaitu Sriwijaya.  Bukti bahwa Palembang kota tertua yang telah dihuni paling lama se Indonesia adalah dibuktikan lewat penemuan Prasasti Kedukan Bukit.  Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Bukit Siguntang, dalam isinya menyatakan telah terjadi pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota pada tanggal 16 Juni 682 Masehi.  Kota yang dimaksud dalam isi Prasasti Kedukan Bukti itu tidak lain dan bukan adalah Kota Palembang.  Jadi, terhitung sejak 682 Masehi sampai dengan sekarang 2012 Masehi, artinya usia Palembang telah mencapai 1330 tahun, di mana usia tersebut jauh lebih tua dari semua kota-kota yang ada di Indonesia.

Gambar 2.  Saya sedang berada di Palembang Expo 2012, salah satu acara yang diadakan oleh Pemkot Palembang dalam menyambut HUT Kota Palembang tahun 2012.

Gambar 3.  Berbondong-bondong warga Palembang menyaksikan kemeriahan perayaan HUT Kota Palembang, walaupun panas terik mereka tetap antusias datang ke pinggiran Sungai Musi.

            Namun, bagi saya pribadi ada sedikit kebingunan dari penentuan tanggal jadi Kota Palembang tersebut, karena dari beberapa artikel sejarah yang cukup terpercaya menyatakan bahwa memang benar tanggal jadi Kota Palembang adalah berawal dari 16 Juni 682 Masehi.  Akan tetapi, berbeda lagi menurut versi pemerintah Kota Palembang sendiri yang menentukan bahwa hari hut kota tersebut diperingati setiap tanggal 17 Juni, karena menurut versi pemerintah bahwa Palembang lahir pada tanggal 17 Juni 683 Masehi, yang artinya usia Palembang saat ini adalah 1329 tahun.

Gambar 4.  Salah satu perahu hias yang ikut serta dalam memeriahkan perayaan HUT Kota Palembang tahun 2012 di atas Sungai Musi.

Gambar 5.  Pria-wanita ramai berbondong-bondong menonton kemeriahaan perayaan HUT Kota Palembang tahun 2012.

Gambar 6.  Perahu hias dengan aksesoris yang menarik beradu daya tarik untuk merebutkan kemenangan dalam lomba perahu hias saat perayaan HUT Kota Palembang tahun 2012.

Jadi, mana yang betul sebenarnya? 16 atau 17 Juni dan 682 atau 683 Masehi?.  Ternyata perbedaan dalam penentuan tanggal pasti suatu peristiwa bukan hanya terjadi saat menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan saja, penentuan hari hut sebuah kota pun ada dua versi antara pemerintah dan artikel-artikel sejarah.  Dan dalam perbedaan tersebut terdapat sebuah kesamaan yaitu pemerintah selalu menentukan tanggal yang lebih lambat satu hari.

Gambar 7.  Perahu bidar berlomban menjadi yang tercepat saat perayaan HUT Kota Palembang tahun 2012.

Gambar 8.  Tampak pula warga yang ingin menyaksikan langsung secara dekat lomba perahu bidar, para warga tersebut menyewa perahu nelayan demi menyaksikan langsung secara lebih dekat.

            Terlepas dari perbedaan penentuan tanggal hari jadinya, kemeriahaan perayaan hari jadi Kota Palembang selalu marak dan meriah disambut oleh warganya.  Palembang yang memiliki julukan Venice of the East (Venesia dari Timur) karena banyaknya sungai yang terdapat di kota tersebut, selalu menyambut hari jadinya dengan berbagai macam acara yang terpusat dilakukan di pinggir dan di atas Sungai Musi.  Sungai Musi yang menjadi jati diri dan lambang Kota Palembang adalah tempat utama perayaan puncak acara Hut Kota Palembang, yang salah satu acaranya adalah lomba perahu bidar dan perahu hias.

Gambar 9.  Betapa ramainya pinggiran Sungai Musi, dipenuhi penuh sesak warga Palembang yang sangat antusias menonton lomba perahu bidar dan lomba perahu hias pada acara HUT Kota Palembang tahun 2012.

Gambar 10.  Gambaran antusias warga Palembang dalam menyambut pesta rakyat dalam acara perayaan HUT Kota Palembang tahun 2012.

            Lomba perahu bidar sendiri memiliki sejarah yang panjang di Kota Palembang.  Menurut versi dari zaman Kesultanan Palembang Darussalam, dahulu kala Kota Palembang di kelilingi oleh 108 anak sungai dengan Sungai Musi sebagai induknya.  Guna menjaga keamanan wilayah maka diperlukan sebuah perahu yang larinya cepat.  Maka Kesultanan Palembang yang saat itu berkuasa di Palembang membentuk patroli sungai dengan menggunakan perahu yang disebut dengan perahu pancalang.  Pancalang berasal dari kata Pancal yang artinya lepas landas dan lang/ilang yang berarti menghilang.  Makna pancalang adalah perahu yang cepat menghilang.

Gambar 11.  Sungai Musi sebagai jantung Kota Palembang menjadi tempat utama penyelenggaraan acara perayaan HUT Kota Palembang 2012.

Gambar 12.  Sangkin antusiasnya warga Palembang dalam menyambut pesta rakyat HUT Kota Palembang, mereka sampai turun jauh ke pinggiran Sungai Musi yang sedang surut saat itu.

            Beberapa ahli sejarah menyatakan bahwa perahu Pancalang inilah yang menjadi asal mula lahirnya perahu bidar di Palembang.  Agar kelestarian perahu bidar selalu terjaga maka digelarlah lomba perahu bidar yang berlangsung sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam.  Orang zaman dulu sering menyebutnya dengan nama “kenceran”.

Gambar 13.  Walaupun zaman semakin modern, segala macam hiburan yang lebih menarik banyak bertebaran di tengah-tengah masyarakat, namun Lomba Perahu Bidar dan Perahu Hias dalam menyambut HUT Kota Palembang tahun 2012 tetap memiliki tempat tersendiri di hati warga Palembang.

Gambar 14.  Dua sejoli ini pun menjadikan pesta rakyat Palembang sebagai tontonan yang mesra dan menarik bagi mereka berdua.

            Perahu bidar sendiri dikayu oleh 8-30 orang dalam satu perahu.  Perahu bidar pun sebenarnya mampu menampung muatan hingga 50 orang.  Perahu bidar biasanya memiliki panjang 10 sampai 20 meter dan lebar 1,5 sampai 3 meter.  Dengan muatannya yang besar inilah perahu bidar/pancalang sering pula digunakan sebagai alat angkutan transportasi sungai.  Dahulu kala raja-raja dan pangeran Palembang sering menggunakan bidar/pancalang untuk plesiran (jalan-jalan) di atas Sungai Musi.

Gambar 15.  Anak ini termenung sendirian, dia terhanyut terbawak suasana saat menyaksikan lomba perahu bidar dalam acara perayaan HUT Kota Palembang tahun 2012.

            Bentuk dari perahu bidar atau pancalang ini juga digambarkan cukup detail dalam sebuah buku Ensiklopedia Indonesia NV, yang diterbitkan oleh W Van Hoeve Bandung’s Gravenhage.  Buku tersebut mengatakan bahwa Pancalang adalah perahu yang tidak berlunas.  Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa selain sebagai perahu penumpang, perahu pancalang juga digunakan sebagai sarana berdagang di atas sungai.  Di mana biasanya perahu pancalang yang digunakan sebagai tempat berdagang diberikan atap di atasnya berbentuk kajang.

Gambar 16.  Paraya nelayan yang mayoritas adalah peserta lomba perahu bidar dan perahu hias sedang bersandar dan beristirahat di pinggiran Sungai Musi.

            Kini tampilan perahu bidar/pancalang sudah banyak berbeda dengan masa Kesultanan Palembang Darussalam.  Saat ini terdapat dua jenis perahu bidar, yaitu pertama perahu bidar berprestasi dan kedua perahu bidar tradisional.  Perahu bidar berprestasi tentunya digunakan dalam pertandingan untuk mendapatkan prestasi atau kemenangan, yang biasa diperebutkan saat Lomban Perahu Bidar di bulan Juni bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Palembang.  Dan perahu bidar tradisional biasa digunakan saat Festival Sungai Musi di bulan Agustus bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.

            Perahu bidar berprestasi memiliki ukuran  panjang 12,70 meter, tinggi 60 cm, dan lebar 1,2 meter. Jumlah pendayung 24 orang, terdiri dari 22 pendayung, 1 juragan serta 1 tukang timba air.  Sedangkan perahu bidar tradisional memiliki ukuran panjang 29 meter, tinggi 80 cm, dan lebar 1,5 meter. Jumlah pendayung 57 orang, terdiri dari 55 pendayung, 1 juragan perahu serta 1 tukang timba air.

            Selain sejarah di atas dari versi Kesultanan Palembang Darussalam, ada versi lain yang menceritakan tentang sejarah asal mula lomba perahu bidar tersebut, yang berasal dari sejarah kolonial pemerintahan Belanda.  Perahu bidar yang berasal dari perahu pancalang yang tidak memiliki atap atau penutup ini, menurut dokumentasi yang dimiliki penjajah Belanda, dari sebuah foto perlombaan perahu bidar pada rangkaian acara ulang tahun Ratu Wilhelmina pada tahun 1898, di mana lomba perahu bidar dalam rangkaian peringatan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina pada saat itu berlangsung sangat meriah dan ramai dipenuhi penonton baik dari kalangan orang kompeni maupun warga lokal Palembang.

            Kemudian, sejarah yang juga memperkuat bahwa asal muasal lomba perahu bidar dan festival perahu hias adalah tradisi Palembang yang dibuat saat masa penjajahan Belanda, dapat dibaca dari suatu kisah sebagai berikut:

“… pada hari selasa, 24 Agustus 1926, Residen Palembang membuat peraturan agar diadakan keramaian di Kota Palembang, berkenaan dengan kedatangan gubernur jenderal Hindia Belanda dari Batavia.  Semua rakyat harus berkumpul di muka rumah residen untuk memapak dan menyongsong kedatangan gubernur jenderal.  Residen, asisten Residen dan sekretaris naik kapal Pruijs untuk berangkat ke Plaju menjemput gubernur jenderal.

Kira-kira pukul Sembilan pagi dari Sungai Musi datanglah kapal perang yang memakai empat corong serta dengan berbagai peralatan untuk menyiarkan dan mengajak agar rakyat datang ke keramaian.  Sekitar jam satu kapal Pruijs dengan membawa gubernur jenderal berlabuh ke tangga residen.  Orang-orang ramai menyongsong kedatanag gubernur jenderal, berbaris pada bagian depan para opzier dan pasirah dengan anak-anak perawannya untuk menari.  Orang-orang yang menonton dari berbagai bangsa dan tidak terhitung jumlahnya, baik laki-laki maupun perempuan serta anak-anak kecil maupun orang tua yang seumur hidupnya tidak pernah didatangi oleh gubernur jenderal di Palembang juga ikut menonton kedatangannya.

Pada pukul tiga sorenya, gubernur jenderal beserta rombongan residen naik mobil menuju daerah Talang Semut untuk meninjau pengerjaan perumahan pegawai.  Pada pukul enam malam hari, gubernur jenderal menonton bioskop di belakang Benteng.  Anak-anak sekolah, baik dari sekolah Belanda, Cina, maupun Melayu hadir menonton bersama gubernur jenderal.

Pada hari Rabu paginya, kepala-kepala kampung mengkoordinir warganya dalam mengeluarkan perahu-perahu bidar dan jukun untuk berlomba di Sungai Musi.  Ketika orang-orang berlomba, gubernur jenderal melihat dari kapal Pruijs.  Sesudah selesai perlombaan tersebut, gubernur jenderal berangkat dari kapal menuju daerah Plaju …”.

Sumber dapat dilihat dalam Terajoe, Palembang, Selasa, 24 Agustus 1926 dan dapat dilihat buku Venesia dari Timur hal 65-66 (Irwanto, D dan Santun, M.  2010).  Dalam buku tersebut juga terdapat/dilampirkan foto dari sumber http://www.tropenmuseum.nl yang mengambarkan suasana lomba perahu bidar dalam rangka perayaan menyambut Ulang Tahun Ratu Belanda ataupun kunjungan para pembesar Hindia Belanda dari Batavia di tahun 1900an.

Jadi, berdasarkan dokumentasi sejarah tersebut, tampaknya lomba perahu bidar lebih kuat sebagai tradisi yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda semasa pimpinan Ratu Wilhelmina.  Selanjutnya tradisi tersebut terus dilanjutkan sebagai tradisi/pesta rakyat guna merayakan Hari Ulang Tahun Kota Palembang maupun peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

            Dan seiring dengan perkembangan waktu, perahu bidar saat ini tidak hanya terbuat dari kayu, namun pula terbuat dari fiber glass yang lebih enteng dan kuat, sehingga lebih cocok digunakan untuk menjadi bahan pembuatan perahu bidar berprestasi.  Peserta lomba perahu bidar maupun festival perahu bidar tidak hanya dari kalangan pria saja, saat ini perempuan pun telah banyak yang ikut berpartisipasi sebagai pendayung perahu bidar.

            Hingga sekarang, terlepas dari mana asal muasal sejarah permulaan, dan kapan pertama kali lomba perahu bidar dilaksanakan di Kota Sungai Palembang, warga masyarakat Palembang selalu antusias menunggu lomba perahu bidar dilaksanakan setiap bulan Juni saat Hut Palembang maupun saat Festival Musi di bulan Agustus saat Hut Kemerdekaan RI.  Walaupun zaman semakin modern dan berbagai macam jenis hiburan yang lebih menarik bertebaran ditengah-tengah masyatakat, namun Lomba Perahu Bidar selalu ada dan memiliki tempat tersendiri  di hati masyarakat Kota Palembang.

Gambar 17.  Masjid Agung Palembang salah satu ikon Kota Palembang.

Saat Lomba Perahu Bidar dilaksanankan, masyarakat Palembang dari segala penjuru tempat dan golongan, baik pria-wanita, tua-muda, kaya-miskin dan warga pendatang maupun warga asli Palembang berbondong-bondong datang ke Sungai Musi menyaksikan kemeriahan lomba tersebut.  Ada yang menyaksikan dari pinggiran Sungai Musi dan ada pula yang menyewa perahu-perahu nelayan, guna bisa menyaksikan lebih dekat kemeriahan Lomba Perahu Bidar dan Perahu Hias yang menghiasi Sungai Musi, kala perayaan puncak acara Hut Kota Palembang maupun Hut RI.

Gambar 18.  Keindahan Masjid Agung Palembang di waktu malam menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Palembang.

Jadi, untuk kalian yang tertarik dan penasaran dengan tradisi perlombaan yang sangat menarik ini, maka sempatkanlah datang berwisata ke Kota Pempek Palembang, terutama di bulan Juni dan Agustus saat jadwal acara Hut Kota Palembang dan Hut Kemerdekaan RI.  Nikmatilah keceriaan dan kemeriahan lomba tradisional khas Palembang yang sangat menarik tersebut.  Selamat berwisata ke Palembang.  Welcome to Palembang.

1 Komentar

Filed under Wisata Budaya Palembang, Wisata Palembang, Wisata Sejarah Palembang

One response to “Hut Kota Palembang?

  1. ermansyah

    kota palembang mempunyai sejarah yg sangat banyak
    ,maka dari itu banggalah menjadi orang palambang,yg penuh dngn budaya y,,,,,aku bangga jadi wong kito,,,hidup wong kiti ,,,amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s