Edukasi untuk Masyarakat di Negeri Cincin Api


Edukasi untuk Masyarakat di Negeri Cincin Api
(By Adrian Fajriansyah 12/12/12)

PENERBITAN BUKU EKSPEDISI CINCIN API

Gambar 1. Beberapa pihak mulai dari pimpinan staf redaksi harian Kompas, pihak sponsor, dan anggota tim Ekspedisi Cincin Api Kompas, saat peluncuran buku Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api, di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (12/12) malam.

Indonesia adalah city of volacano terbesar di dunia dengan jumlah masyarakat terbanyak yang tinggal di negeri rawan bencana. Persoalannya, tidak semua masyarakatnya mengetahui potensi bencana tersebut. Peluncuran buku Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api, bertujuan memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat, agar lebih waspada dan siap dalam menghadapi bencana.

            “Diharapkan hasil ekspedisi bisa mengingatkan dan menyadarkan masyarakat, agar lebih dewasa terhadap semua potensi bencana yang ada dan bisa setiap saat terjadi,” kata Ahmad Arif, Ketua Ekspedisi Cincin Api Kompas, saat acara peluncuran buku Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api, di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (12/12) malam.

Fotografer Kompas.com dan Anggota Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas Fikria Hidayat mengatakan, buku Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api adalah tulisan dengan bahasa yang lebih populer dan mudah dimengerti masyarakat umum. Dari buku tersebut, masyarakat bisa mengenal luas bahwa sedang tinggal di negeri cincin api yang rawan dengan bencana alam seperti tsunami, gempa, dan letusan gunung api.

“Buku ini juga mengajarkan bagaimana caranya mitigasi bencana,” kata Fikria yang ikut mendaki tujuh gunung dalam ekspedisi tersebut.

Hasil liputan ekspedisi cincin api yang dituangkan dalam sebuah buku itu, diharapkan menjadi sarana informasi dan nilai edukasi kepada masyarakat. “Masyarakat yang hidup di lingkaran cincin api seperti Indonesia harus menyadari, bahwa dia hidup di atas tanah bencana,” kata Budiman Tanuredjo, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi Surono, Indonesia tidak bisa hidup tanpa gunung api, karena dari letusan gunung api tersebut tanah Nusantara menjadi subur. Namun, yang terjadi masyarakat sering lupa dengan alam, bahkan cendeung egois terhadap alam, sehingga setelah bencana alam terjadi jumlah korban akibatnya sangat banyak. “Alam itu jujur, dia bisa memberikan semua yang kita inginkan, tapi jika kita tidak jujur juga dengan alam, maka alam bisa murka,” kata Surono.

Surono mengatakan, bahwa hasil liputan ekspedisi cincin api bisa memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat agar lebih waspada saat menghadapi bencana alam. Dari hasil liputan cincin api juga masyarakat bisa belajar mengenai kearifan lokal di tiap daerah. “Namun harus diingat, kearifan lokal adalah respek kepada alam, dengan selalu memberikan hormat setinggi-tingginya kepada alam, bukan mendewakan alam,” jelas Surono.

Dalam peluncuran buku tersebut, hadir sebagian besar pimpinan staf redaksi harian Kompas dan beberapa pihak dari sponsor pendukung, serta sebagian anggota tim yang ikut serta dalam Ekspedisi Cincin Api Kompas dari September 2011-Oktober 2012.

Ekspedisi Cincin Api Kompas adalah sebuah liputan yang mendalam mengenai suatu persoalan. Tujuan ekspedisi tersebut untuk mengenalkan sisi lain dari tanah air Indonesia.

Hasil liputan ekspedisi itu adalah jawaban atas minimnya sumber informasi dan dokumentasi mengenai sejarah kebencanaan, kaitan bencana dengan budaya lokal, dan potensi bencana di Indonesia.

Rencananya ke depan akan dilakukan lagi ekspedisi yang serupa dengan tema berbeda, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai keindonesiaan.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita Dari Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s