SLAMET RAHARDJO DJAROT: Melahirkan Seni dari Memaknai Alam


 SLAMET RAHARDJO DJAROT
Melahirkan Seni dari Memaknai Alam
(By Adrian Fajriansyah 06/12/2012)

mtf_hUZoP_170

Gambar. Slamet Rahardjo Djarot, di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (6/12).

Bagi Sutradara dan Budayawan Indonesia Slamet Rahardjo Djarot (63), Ilmu pengetahuan ibarat udara di alam. Semua ilmu pengetahuan ada di alam, termasuk dalam berkesenian, inspirasi itu berasal dari memaknai dan menghargai alam. “Oleh karena itu, kita harus belajar kepada alam, seperti bunyi pepatah Minang alam takambang jadi guru atau alam terkembang menjadi guru,” katanya saat konferensi pers sebelum pementasan karya seni teaternya yang berjudul “BalakSong” di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Kamis (6/12).

Manusia tidak bisa terlepaskan dari alam. Siklus bumi telah membuat suatu arak-arakan atau perputaran kehidupan yang sangat mempengaruhi kebudayaan manusia di setiap daerah.

“Seni itu terlahir dari alam, jika menghargainya maka akan timbulah seni. Semua yang diberikan oleh alam, dari langit dan bumi jika disatukan akan menjadi sebuah kreativitas berupa kesenian,” kata Slamet.

Alam memberikan banyak hal pada kehidupan, termasuk dalam melahirkan inspirasi untuk berkesenian. Slamet mencontohkan, para nelayan di Pantai Utara Jawa (Pantura) yang punya kebiasaan menembangkan lagu bersama, saat beramai-ramai menarik jala ikan dari lautan.

Mengamati hal itu, Slamet menyadari, ada sesuatu yang luar biasa diberikan alam kepada mereka yang menghargainya, sehingga orang-orang tersebut tampak bahagia menjalankan setiap aktivitas kehidupannya bersama alam.

Seperti bunyi pepatah Minang alam takambang jadi guru, yang maknanya manusia harus belajar dari alam. Ada tiga filosofi kehidupan yang muncul dari memaknai alam, yaitu baso, raso dan peraso. Baso adalah bahasa yang artinya keindahan, raso adalah rasa sebagai kendali bahasa, dan peraso adalah perasa agar kendali menjadi tepat. Menurut Slamet, hidup adalah seni, yang melahirkan keindahan dan kebahagian. Bahasa seni adalah budaya yang selalu mendahulukan dialog atau musyawarah. “Saya selalu berterimakasih pada tuhan karena telah diberi kesempatan belajar dari alam,” tuturnya.

Slamet mengisahkan, awal dia belajar secara aoutodidak berbagai ilmu pengetahuan dan menjadikan alam sebagai guru, ketika dua kali masuk ke perguruan tinggi, yaitu di Akademi Film Nasional Jayabaya, lalu pindah ke Akademi Teater Indonesia, namun semuanya tidak selesai karena kedua lembaga tersebut bubar. “Itu adalah “tondo-tondo” atau tanda-tanda yang lebih dari isyarat, yaitu falak dari tuhan. Seolah tuhan berkata pada saya, hai Slamet kamu jangan sekolah formal,” ungkap.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita Dari Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s