Kisah dari “Sikok” Pempek


Pengaruh Budaya

Kisah dari “Sikok” Pempek
(By Adrian Fajriansyah, Senin, 01/04/2013)

Pempek Palmerah

Pempek di Palmerah, Jakarta. Demi “sikok” pempek ini, saya relah bercapai ria mengelilingi Palmerah. (By Adrian Fajriansyah)

            JAKARTA, Senin (1/4) – Kota Palembang merupakan kota tetua di Indonesia. Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, Palembang telah menjadi hunian layaknya kota sejak tanggal 16 Juni 682 Masehi. Pada masa itu, Palembang dikuasai oleh salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara, yaitu Sriwijaya.

Sriwijaya sendiri merupakan kerajaan Budha yang memiliki hubungan erat dengan tanah kelahiran Budha di Tiongkok atau China. Maka sedari dahulu, telah terjadi akulturasi budaya yang sangat erat antara Palembang dan China termasuk dalam makanan.

Hingga akhirnya Kerajaan Sriwijaya benar-benar runtuh di abad 13 Masehi, hubungan erat antara Palembang dan China masih terus berlanjut. Apalagi saat lahirnya Kesultanan Palembang Darussalam (sekitar abad 16 Masehi), di mana saat itu Palembang menjadi salah satu pusat perdagangan yang cukup ramai.

Orang-orang keturunan China silih berganti masuk ke Palembang. Mereka membaur dengan warga setempat, hingga menetap dan berkeluarga dengan orang asli Palembang. Terbukti adanya tempat ibadat Tri Dharma Chandra Nadi (Klenteng Soei Goet Kiang) sejak tahun 1733 (tertua di Palembang), Kampung Kapitan sejak abad 18 Masehi, hingga kisah cinta ”Romeo and Juliet” antara Pangeran Tan Bun An dan Putri Fatimah di Pulau Kemaro.

Dari sekian banyak akulturasi budaya antara Palembang-China, ada satu ikonnya, yaitu pempek. Pempek murupakan makanan olahan ikan hasil ”rekayasa” warga keturunan China yang menetap di Palembang pada sekitar abad 16-17 Masehi. Dan hingga saat ini, pempek menjadi idola semua warga di Palembang. Bahkan, pempek telah menjadi identitas resmi Kota Palembang.

Orang Palembang memakan pempek dari pagi hingga malam. Pempek tidak bisa dilepaskan dari kehidupan warga Palembang, bahkan saat mereka merantau ke ”negeri seberang”. Dan salah satunya adalah saya yang sekarang menetap sementara di Jakarta. Demi semangkok pempek kapal selam yang telah lama tak saya santap, saya rela bercapai ria mengelilingi daerah sekitar tempat tinggal saya, Palmerah. Untungnya, jeri payah itu ada hasil, di mana saya bisa menikmati pempek yang saya inginkan, walaupun rasanya tak persis sama dengan tempat asalnya (Lihat foto utama tulisan ini).

Sebenarnya, bukan hanya pempek yang menjadi makanan khas Palembang dari hasil akulturasi budaya dengan China. Masih ada makanan lain, yang lahir dari inovasi pempek, seperti model, tekwan, bahkan laksan dan celimpungan. Kemudian, untuk pempek sendiri, telah lahir banyak pengembangan baru, seperti pempek lenggang dan pempek panggang. Serta, saat ini, ada pengembangan yang lebih baru dari pempek, yaitu pempek isi keju, sosis dan lainnya, yang notabene di Palembang sendiri itu jarang, atau mungkin tak ada.

Dari sekian banyak makanan olahan pempek itu, tentu tak lengkap jika tanpa cuko. Cuko merupakan kuah pempek, yang juga hampir tiap hari disantap oleh warga Palembang. Bagi wong Palmbang, cuko bisa menambah kenikmatan makanan. Cuko bisa dicampur dengan makanan olahan pempek, seperti model dan tekwan, termasuk untuk celimpungan dan laksan yang sebenarnya telah dilengkapi kuah santan.

Bahkan, cuko pun bisa menemani makanan yang tidak berbahan pempek, seperti tahu goreng ataupun pisang goreng. Padahal, makanan-makanan itu rasanya cukup kontras dengan rasa cuko yang pedas-masam.

Intinya, dari kisah di atas, Palembang dan China itu sangat bersahabat, terlambang dari ”sikok” pempek. Dan di mana pun orang Palembang berada, pempek dan cuko tak bisa dipisahkan. Men uji kato wong Palembang, dak katek pempek dengan cuko rasonyo hidup nih dak lengkap.

Keterangan: Siko = artinya satu.

24 Komentar

Filed under Berita Dari Jakarta, Wisata Kuliner Palembang

24 responses to “Kisah dari “Sikok” Pempek

  1. Mas, blognya buat aku jadi berasa jalan2 dipalembang.. Foto2 dikanan kiri.
    Kalo di Jakarta; Pempek, Tekwan, Model, Celimpungan, dst susah cari yg seselera lidah kita. Kalo pun ada, Mahalnya buanget, buanget.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s