Tiga Tokoh Muhammadiyah Bagian Pendiri Bangsa


Peluncuran Buku

Tiga Tokoh Muhammadiyah Bagian Pendiri Bangsa
(By Adrian Fajriansyah, Sabtu, 6 April 2013)

DSC_7274

Tiga Tokoh Muhammadiyah yang juga bagian dari pendiri negeri ini, dirangkum kisahnya dalam sebuah buku.

Jakarta, Sabtu (6/4) – ”Jasmerah! Jangan sesekali melupakan sejarah,” mengutip jargon pidato Bung Karno, pada 17 Agustus 1966. Hal itu belaku pula untuk tiga tokoh Muhammadiyah, yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Muzakkir. Mereka bertiga merupakan di antara sekian banyak orang yang turut andil mendirikan bangsa Indonesia.

Generasi sekarang mungkin tak banyak tahu dengan tiga tokoh tersebut. Padahal, mereka turut berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nama mereka terpatri sebagai peletak awal landasan dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Dalam buku ”Dari Muhammadiyah Untuk Indonesia: Pemikiran dan Kiprah Ki Bagus Hadikusumo, Mr Kasman Singodimedjo, dan KH Abdul Kahar Mudzakkir” yang baru diluncurkan, Jumat (5/4), di Jakarta, tertuang kisah yang cukup detail mengenai jejak sejarah dari ketiga tokoh ”bapak pendiri bangsa” itu.

Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo merupakan tokoh-tokoh yang turut merumuskan Piagam Jakarta, pada 22 Juni 1945. Sementara Abdul Kahar Mudzakkir merupakan bagian dari Panitia Sembilan, yang menandatangani pengesahan naskah Piagam Jakarta itu. Nantinya Piagam Jakarta tersebut, menjadi cikal bakal dari ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Selain itu, buah pemikiran ketiga orang tersebut juga turut andil dalam melahirkan UUD’45.

Tak hanya itu, sifat mereka pun layak menjadi suritauladan bagi generasi saat ini. Mantan Wakil Ketua MPR, AM Fatwa, mengungkapkan, dirinya kagum dengan sifat kenegarawanan ketiga tokoh itu, di mana mereka dengan legowo menerima usulan mengubah isi dari butir pertama Piagam Jakarta, demi keutuhan negara Indonesia.

Awalnya, isi butir pertama Piagam Jakarta ialah Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya. Akan tetapi, pada 18 Agustus 1945, tokoh non muslim Indonesia Timur, seperti Sam Ratulangi, Latuharhary, dan I Gusti Ketut Pudja menyatakan keberatannya terhadap isi butir pertama tersebut.

Padahal sebelumnya, isi dari Piagam Jakarta, termasuk butir pertamanya, telah disetujui dan ditandatangani oleh semua anggota Panitia Sembilan, termasuk tokoh non muslim Aex Andries Maramis. Melalui lobi yang panjang, akhirnya Ki Bagus Hadikusumo utamanya, legowo menghilangkan tujuh kata dalam butir pertama tersebut menjadi, seperti yang kita kenal dalam Pancasila sekarang, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Meski teguh dalam memegang prinsip dasar negara Islam, tetapi ketiga tokoh tersebut lebih mengutamakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ”Itu adalah sifat seorang negarawan sejati. Mereka lebih mengutamakan kepentingan negara dibandingkan kepentingan pribadi,” ujar Fatwa, yang Ketua Panitia Pengusulan Pemberian Gelar Pahlawan Nasional bagi ketiga tokoh itu.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, dirinya telah lama kagum dengan ketiga tokoh tersebut. ”Bagi saya jasa mereka dan semua pahlawan bangsa wajib untuk kita hargai dan teladani,” ucapnya ketika menghadiri peluncuruan buku tersebut.

Menurut Hatta, kita perlu berkaca dari keteladanan para tokoh-tokoh pendiri bangsa, termasuk Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir. ”Negara kita sedang krisis ketokohan (idola). Dengan meneladani pemikiran dan kiprah para bapak pendiri bangsa itu, diharapkan generasi penerus menemukan lagi idolannya,” tuturnya.

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengatakan, dirinya beruntung masih bisa bertemu dan berinteraksi langsung dengan dua di antara tiga tokoh tersebut, yaitu Kasman Singodimedjo dan Abdul Kahar Mudzakkir. ”Dari mereka, kita bisa belajar tentang nilai-nilai kebangsaan, seperti keteguhan hati, ketegasan dalam bersikap, dan sifat kenegarawanannya,” katanya saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku itu.

Sementara itu, saat dihubungi via telepon, pemerhati sejarah Asep Kambali menerangkan, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir merupakan dari sekian banyak tokoh yang turut merintis kemerdekaan Indonesia. Mereka tercatat sebagai pemerkasa Pancasila dan rumusan dasar negara Indonesia (UUD’45). Dan mereka pula merupakan figur yang tidak mementingkan egonya semata, melainkan figur yang mengutamakan kepentingan negara di atas segalanya. ”Atas dasar itu, bagi saya sangat layak ketiga tokoh itu menyandang gelar Pahlawan Nasional,” jelas Pendiri Komunitas Historia Indonesia tersebut.

Sebagai bangsa yang berbudaya, tentu kita tidak boleh melupakan tiap penggalan dalam sejarah bangsa kita. Merupakan kewajiban kita sebagai bangsa dan generasi penerus untuk menghargai dan meneladani sejarah. Tujuannya, agar negara ini bisa belajar untuk menjadi lebih baik dari kisah-kisah masa lalu itu.

*Tulisan ini tadinya diproyeksikan untuk dimuat di halaman Polhuk salah satu media masa cetak terbesar di Indonesia untuk edisi Senin (8/1). Namun, karena saya telat menyerahkan draf tulisan, akhirnya tulisan ini didrop (batal dimuat). Ini menjadi salah satu jejak pelajaran buat saya, agar bisa lebih disiplin.

12 Komentar

Filed under Berita Dari Jakarta, Wisata Sejarah Indonesia

12 responses to “Tiga Tokoh Muhammadiyah Bagian Pendiri Bangsa

  1. wah… padahal tulisannya ok tuh.
    menghubungi mas asep langsung.. keren.

    seorang negarawan sejati adalah mereka yang tidak mengutamakan ego pribadi mereka sendiri, tapi mengutamakan negara. setuju banget. makasih ya dah sharing.

  2. Citizens of every country can learn a lot from studying the history. Every nation has its heroes.

  3. bajangg

    knp telat? sayang sekali….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s