AKU DAN HABIBIE


Bertemu Idola

AKU DAN HABIBIE
(By Adrian Fajriansyah, Kamis, 11 April 2013)

AKU DAN HABIBIE (1)

Aku dan Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie. Ini salah satu momen indah dalam hidupku, sungguh.

JAKARTA, KAMIS (11/4) – Hari itu, Kamis (11/4), salah satu yang terindah dalam hidupku. Akhirnya aku bisa bertemu idolaku. Tubuhnya mungil, dari wajahnya selalu terpampang ronah wajah ceria dengan senyum khasnya, dan kalau bicara sangat semangat dengan logatnya yang dia banget. Dia adalah yang kita kenal sebagai pencipta pesawat terbang N250 Gatot Kaca, Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie.

HABIBIE TERSENYUM

Habibie Tersenyum. Ini idolaku, mana idolamu?

AKU DAN HABIBIE (2)

Aku rangkul dan jabat tangannya. Aku kagum kepadanya, terlepas segala kontroversi dari dinamika politik yang melekat padanya, aku tetap kagum dan bangga kepadanya.

            Ceritanya, hari itu aku diberi tugas untuk meliput acara ”Serial I Dialog Demokrasi dan Peradaban Internasional” bertema ”Membangun Budaya Demokrasi untuk Umat Manusia” yang diselenggarakan dalam rangka Milad PKS ke-15 di Hotel Bidakara, Jakarta. Dan sebagai pembicara utama dihadirilah Presiden Ketiga Indonesia BJ Habibie.  Ketika mendapatkan tugas itu, aku merasa mendapatkan durian runtuh, karena memang sedari dahulu aku ingin sekali bertemu dengan Habibie.

Sebelum berangkat liputan, dalam hati aku tekatkan bila nanti bertemu Habibie, aku akan memeluk, mencium, ngobrol dan foto bareng bersamanya. Dari pukul 18.00, aku sudah berada di tempat liputan itu, padahal acaranya baru akan berlangsung pukul 20.00. Selama dua jam aku menanti kehadiran Habibie.

Terang saja, ketika beliau datang, aku langsung mendekatinya sembari menyalaminya. Ia merespon dan bertanya padaku ”apa kabar?”, pahadal kami belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Namun, sangkin senangnya, aku lupa mejawab salamnya itu. Kali itu, Habibie tak bisa berlama-lama, karena ia pembicara utama, maka setibanya di sana, ia langsung menuju ke panggung untuk memulai acara.

Perlu diketahui, setiap kali meliput acara dialog, diskusi, atau sejenisnya, aku pasti ngantuk dan tak bisa menikmatinya. Tapi kali ini berbeda, aku sangat antusias, karena pembicaranya idolaku, Habibie. Maka itu, tiap kata yang ia ucapkan, aku perhatikan dengan seksama dan serius.

Dalam kesempatan itu, Habibie berbicara banyak dan sangat detail mengenai sejarah Indonesia, demokrasi di Indonesia, hingga kisah cintanya dengan Ainun, belahan jiwanya. Satu yang aku tangkap, Habibie selalu mengulang menyampaikan tentang satu hal kepada audiens-nya, yaitu mengenai nilai tambah manusia, termasuk dalam demokrasi.

Menurut Habibie, kunci melahirkan demokrasi yang berkualitas adalah terletak pada sumber daya manusianya. Bila SDM tidak berkualitas maka demokrasi yang dijalankannya tidak akan berkualitas. Sebaliknya, SDM yang berkualitas akan menjalankan demokrasi yang berkualitas.

Habibie mengatakan, cara untuk meningkatkan kualitas suatu SDM ada tiga kuncinya, yaitu pembudayaan, pendidikan, dan pengunggulan. ”Pembudayaan adalah identik dengan nilai iman dan takwa seseorang. Adapun, pendidikan mengenai keterampilan dalam suatu bidang ilmu pengetahuan dari seseorang. Sementara, pengunggulan adalah suatu cara untuk meningkatkan nilai tambah dari pembudayaan dan pendidikan seseorang. Dengan SDM yang berkualitaslah maka demokrasi yang dijalankan akan berkualitas,” terang pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu.

Sungguh tak terasa hampir dua jam Habibie berdiri di mimbar pidatonya. Namun, aku tak sedikit pun berpaling, bosan, apalagi mengantuk melihatnya berbicara. Habibie selalu bicara dengan semangat 45, walaupun kadang pembicaraannya diulang-ulang, tapi ada kesan mendalam dalam setiap ucapannya. Ia pun sangat antusias dalam menyampaikan pandangan dan pendapatnya. Terbukti, walaupun kadang terganggu batuk, ia seolah tak peduli dengan kondisi itu dan terus saja berbicara, padahal usianya sudah memasuki masa senja, yaitu 77 tahun. Bagiku itu cerminan orang yang selalu melakukan setiap pekerjaan dengan totalitas dan sepenuh hati.

Di sela dialog ada sesi tanya-jawab. Kesempatan itu tak aku sia-siakan untuk berinterasi langsung dengan Habibie. Aku ngotot memintak kesempatan untuk bertanya kepada moderator acara Muhammad Sohibul Iman, Wakil Ketua DPR RI. Dan aku mendapatkan kesempatan itu sebagai penanya keenam atau yang terakhir dalam sesi tersebut. Padahal, saat itu, aku belum menyiapkan satu pun pertanyaan.

Giliran bertanyaku tiba, aku berjalan menuju ke arah microphone dengan semangat. Sebelum bertanya, dengan lantang aku memperkenalkan identitasku. Kali itu, akupun tak lupa menyampaikan asal daerahku, Palembang, yang sontak menyita perhatiaan orang-orang seisi gedung. Mereka menyapaku dengan sebutan ”Wong Kito Galo”, hingga Jimly Asshiddiqie, Ketua DKPP, juga turut memperhatikan ku karena ia juga orang Palembang.

Dalam kesempatan itu, aku menanyakan lima hal berkaitan dengan demokrasi kepada Habibie, yaitu bagaimana budaya demokrasi yang ideal itu?, bagaimana membentuknya, khsusunya untuk culture di Indonesia? apakah kondisi demokrasi di Indonesia sudah berada di jalan yang benar? dan apakah minimnya suara sejumlah partai Islam dalam sejumlah pemilu karena mereka tak mampu beradaptasi dengan iklim demokrasi saat ini?. Satu pertanyaan terakhir, aku bertanya apakah nanti Pak Habibie akan membuat lanjutan buku Ainun & Habibie, dengan judul Habibie & Demokrasi? Mendengar perntanyaan terakhir itu, sontak seisi gedung kembali menjadi heboh, dengan tertawa. Dan mereka memberikan applause meriah kepadaku.

Tak butuh waktu lama, Habibie langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Namun, ternyata dari sekian banyak penanya, hanya pertanyaan dariku yang diresponnya untuk dijawab. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, tak semua pertanyaan bisa dijawabnnya.

Seusai acara dialog itu, Habibie dianugrahi gelar oleh PKS sebagai ”Guru Demokrasi Indonesia”. Hal itu didasari oleh jasanya yang telah membangun kehidupan demokrasi di Indonesia. Seperti diketahui, saat menjadi presiden, ia telah membuka kebebasan kepada pers, membangun pluralitas dalam berpolitik, melepas pemaksaan atas asas tunggal Pancasila, dan mempercepat proses pemilu saat itu.

”Alam demokrasi yang kita rasakan saat ini, tak lepas dari jasa besar Pak Habibie. Kita semua saat ini merupakan anak reformasi yang dilahirkan oleh Pak Habibie,” ucap Anis Matta, Presiden PKS saat memberikan sambutan.

Setelah rangkaian acara berakhir, sontak dengan kecepatan kilat aku langsung mendekati Habibie. Aku memfoto Habibie dari beberapa angel, beliau melihat aksi ku, dan melempar senyum kepadaku, sungguh aku merasa sangat dihargai oleh beliau.

Kemudian aku menghampirinya. Lalu, aku menyampaikan kekagumanku kepadanya. Habibie pun memberikan pujian atas semua pertanyaanku tadi, dan meminta maaf belum bisa menjawabnya semua. Tak lama, aku mencium pipi kanan dan kiri Habibie, serta aku peluk ia erat-erat. Sembari berkata, aku ingin berbincang empat mata kepadanya suatu hari nanti, tapi sayang ia hanya membalasnya dengan senyuman, tanda ia tak bisa meng-iyah-kannya namun tak ingin membuatku tersinggung.

Dalam kesempatan itu pula, aku memohon izin berfoto bersama dengannya. Habibie dengan ramahnya bersediah berfoto dengan ku. Aku rangkul dan pegang tangannya. Hampir sepuluh frame kami berfoto bersama. Dalam tulisan ini juga, aku ingin berterima kasih kepada seorang bapak yang dengan tulus telah bersedia membantu mendokumentasikan gambar aku dan Habibie. Karena waktu itu, sangking senangnya aku lupa mengucapkan terima kasih kepada bapak itu, yang entah siapa namanya pun aku tak tahu.

Seusai momen indah itu, lekas aku menelpon orang tuaku di Palembang. Aku menyampaikan semua keharuanku,  semua pengalaman indahku itu kepada ibuku. Aku ceritakan panjang lebar, bagaimana aku bisa bertemu, memeluk, mencium, berbincang, dan berfoto bareng dengan Habibie, yang di dunia internasional dijuluki Mr. Crack, karena penemuannya tentang keretakan atom pada pesawat terbang.

Hari itu bagiku sangat indah. Impianku untuk bertemu dengan Habibie akhirnya tercapai. Selama ini aku hanya bisa mengaguminya lewat layar kaca atau pun buku. Namun, tadi (hari itu) aku barusan saja bercengkramah dengannya. Terlepas dari segala kontroversi dari dinamika politik yang melekat padanya, bagiku Habibie adalah orang yang luar biasa dan layak menjadi suritauladan bagiku khususnya.

Namun, aku belumlah puas. Aku masih memendam harsat untuk bisa berbincang berdua dengannya suatu hari nanti. Aku ingin bercerita banyak hal dengannya, tentang sejarah Indonesia, tentang pesawat terbang, tentang kepintarannya, dan lainnya, hingga tentang pengalaman cintanya kepada Ainun, bidadarinya. Untuk itu, aku berdoa semoga beliau panjang umur dan sehat selalu, sehingga kelak aku dan beliau bisa bertemu kembali. Amiin ya robal alamin…

15 Komentar

Filed under Berita Dari Jakarta, Idola Ku Inspirasi Ku, Kisah Dan Pengalaman Ku

15 responses to “AKU DAN HABIBIE

  1. Huaaa….kereeenn, abg adrian…!!
    Saya masih berharap nih bisa mewawancarai beliau suatu saat nanti🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s