”Menikmati” Banjir di Usia Senja


”Menikmati” Banjir di Usia Senja
(By Adrian Fajriansyah, Kamis, 02/05/2013)

DSC_8071

Abah Nasim, menanti banjir surut. Barulah ia bergerak membersihkan rumahnya yang sederhana. Begitulah caranya menikmati banjir di kala usia senja.

Abah Nasim (75), ia biasa dipanggil oleh tetangga di lingkungannya. Sudah lebih dari 50 tahun ia bermukim di daerah Kampung Pulo. Ia bercerita, saat usianya 7 tahun, daerah Kampung Pulo masih menjadi daerah yang asri. Dahulu, sekitar tahun 1950an, di daerah Kampung Pulo masih banyak ditumbuhi pepohonan, seperti  pohon rambutan, pohon duku, pohon pisang, dan pohon sawo.

”Saking sepinya daerah ini dahulu, banyak orang yang tidak berani bermain ke sini, terutama saat malam,” ujar Nasim, ketika ditemui di kediamannya, RT 008, RW 03, Kel. Kampung Melayu, Kec. Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (2/5).

Nasim mengisahkan, dahulu, di daerah Kampung Pulo yang asri tidak pernah ada banjir besar seperti saat ini. ”Seingat saya, pada zaman Jepang (tahun 1942-1945) pernah sekali terjadi banjir, tapi tidak terlalu besar dan hanya sebentar. Saya waktu itu melihatnya dari atas pohon sawo,” kenang pria kelahiran 1938 itu. 

DSC_8068

Abah Nasim, kini hidupnya sebatang kara setelah isterinya meninggal pada tahun 2005 lalu.

Setelah sekian lama berlalu, Kampung Pulo mulai ramai dihuni warga. ”Keadaan berubah total, seperti pembangunan tidak teratur, rumah semakin padat, pohon-pohon ditebangi, dan Sungai Ciliwung semakin sempit, serta dangkal. Akibatnya, sekarang sering terjadi banjir,” ucap Nasim, yang ketika sehat, setiap pagi berdagang jam di kawasan Jenderal Urip, Jakarta Timur. 

Nasim tidak bisa berbuat banyak. Nasim hanya bisa memandangi air yang mengalir deras di depan halaman rumahnya, saat banjir datang. Ketika air mulai surut, barulah ia bersiap membersihkan bagian dalam rumahnya yang dipenuhi lumpur sungai. ”Mau bagaimana lagi, urusan banjir ialah urusan tuhan. Musibah itu datangnya dari tuhan, sehingga saya hanya bisa menerimanya, karena  kita tidak bisa menghindari musibah,” katanya polos.

Nasim berkisah, pada tahun 2007 terjadi banjir yang sangat parah. Saat itu, seisi rumahnya yang berlantai dua dipenuhi air. Kondisi itu, memaksa ia membobol plafon rumahnya demi menghindari luapan air. Dan apa yang terjadi saat itu, terulang lagi di awal tahun 2013. ”Kalau banjir besar datang, saya tinggal di atap rumah. Hal itu, saya lakukan untuk sekadar menyelamatkan barang praboratan dan diri sendiri,” tutur pria yang memiliki 9 cucu itu.

Di usia senjanya, Nasim hidup sebatang kara di rumah sederhana yang berukuran sekitar 4×3 meter. Lantai satu rumahnya dijadikan semacam warung sederhana dengan beberapa barang dagangan, seperti gula, kopi, teh, mie instan, dan lainnya, serta beberapa jam dinding. Adapun, lantai dua terdapat sebuah ranjang besi tua, mesin jahit tua, tape recorder tua, beberapa album kaset pita dari penyanyi-penyanyi lawas, dan sebuah televisi tua yang tidak bisa menyalah lagi. Sementara itu, isterinya telah lama meninggal, pada tahun 2005. Adapun, anak semata wayangnya, kini hidup bersama suami dan anak-anaknya di tempat berbeda.

Nasim tidak berharap banyak kepada pemerintah. Ia hanya meminta pemerintah bisa bekerja sebaik mungkin dan lebih memperhatikan rakyat kecil. ”Saya sudah cukup umur, tidak banyak yang saya harapkan. Akan tetapi, semoga generasi yang lebih muda bisa hidup lebih baik,” pesan pria asal Bojong Gede, Bogor itu.

Berulang kali Nasim mengatakan, dirinya sudah tua, sehingga saat ini yang dilakukannya hanya bisa bersyukur kepada tuhan. ”Saya cuma bisa bersyukur masih diberi umur, sebab teman-teman seangkatan saya hampir semuanya telah wafat,” jelasnya.

Di sela kegiatannya membersihkan rumah dan jalan di depan rumahnya yang dikotori lumpur, Nasim menghentikan kegiatan itu ketika berkumandang azan Zuhur. Ia membersihkan diri dan memakai pakaian bersih untuk kemudian menunaikan ibadah di sebuah masjid dekat rumahnya. Seusai beribadah, kembali ia melanjutkan pekerjaannya sendirian. ”Saya lebih suka bekerja sendiri. Sekalian berolahraga,” katanya ketika akan dibantu.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita Dari Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s