Pinisi, Sejarah Abadi di Sunda Kelapa


Wisata Sejarah Pelabuhan

Pinisi, Sejarah Abadi di Sunda Kelapa
(By Adrian Fajriansyah, Sabtu, 11 Mei 2013)

DSC_8550

Beberapa pinisi yang sedang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Keberadaan perahu layar tradisional khas Bugis itu sekarang mulai tersaingi oleh kapal-kapal besi yang memiliki daya angkut lebih besar. Namun, keindahan pinisi tak akan bisa tergantikan oleh kapal-kapal besi.

            Sekitar 50 pinisi bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Sabtu (11/5). Beberapa buruh angkut pelabuhan dan para awak kapal berupaya mengangkut satu per satu barang ke pinisi, dan ada pula yang baru saja menurunkan barang-barang dari pinisi. Barang-barang itu terdiri dari beberapa jenis, seperti keperluan bangunan, perkakas rumah tangga, hingga sembako.

Pinisi merupakan salah satu roda penggerak ekonomi di Pelabuhan Sunda Kelapa, yang telah beroperasi sejak tahun 1527 itu, beberapa barang pesanan agen-agen tokoh di beberapa daerah diangkut. Tak hanya itu untuk membawa dan menurunkan barang, lewat kapal kayu khas orang Bugis itu pula para buruh angkut pelabuhan dan awak-awak kapal menyandarkan hidupnya.

Salah seorang buruh angkut pelabuhan, Rochiman (45) mengatakan, dari upah mengangkut barang-barang yang akan dibawa dan diturunkan dari pinisi itulah, ia menafkahkan keluarganya. ”Besaran upah yang diterima sekitar Rp 7.000 per satu ton barang untuk satu regu buruh angkut pelabuhan. Adapun, total penghasilan setiap buruh angkut pelabuhan per hari tergantung jumlah barang yang diangkut regunya dalam satu hari,” ujar pria yang telah 14 tahun menjadi buruh angkut pelabuhan itu.

Salah seorang awak pinisi, Kapal Layar Motor (KLM) Bunga Sentosa, Syam (41), mengatakan, dirinya memilih menjadi pelaut sejak umur belasan tahun. Biasanya pinisi ditempatnya bekerja berlayar dari Bangka ke Jakarta dan sebaliknya, serta Bangka ke Batam dan sebaliknya. ”Dari bekerja sebagai pelaut, saya mendapatkan uang sekitar Rp 1-2 juta per bulan. Uang tersebutlah saya gunakan untuk hidup dan menafkahkan keluarga,” ucap pria asal Makassar, Sulawesi Selatan itu.

Menurut salah seorang pelaut asal Bugis, Ibrahim (45), pinisi merupakan salah satu kapal tradisional yang cukup handal untuk berlayar di laut luas. Itulah mengapa, sampai sekarang pinisi masih digunakan untuk membawa barang dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia. ”Pinisi itu memiliki keseimbangan yang cukup baik. Oleh karena itu,  pinisi akan tetap stabil ketika diterpa gelombang besar. Selain itu, pinisi yang baik memiliki ketahanan yang cukup lama,” terang pria telah menjadi pelaut sejak umur 18 tahun itu.

Akan tetapi, dari waktu ke waktu, jumlah pinisi semakin berkurang, terutama di Pelabuhan Sunda Kelapa. Seorang awak KLM Huswatul Hasanah, Andi (50) menuturkan, dahulu jumlah pinisi di Pelabuhan Sunda Kelapa sangat banyak. ”Saking banyaknya pinisi saat itu, untuk bersandar ke Pelabuhan Sunda Kelapa harus antre sekitar 1-2 hari. Bahkan, saat mendapat giliran bersandar, beberapa pinisi harus bersandar berlapis,” tuturnya.

Menurut pelaut asal Belitung, Ahok (40), saat ini, keberadaan pinisi mulai tersaingi oleh kapal-kapal besi. Kapal-kapal besi itu, memiliki daya angkut barang sekitar 1.000-2.000 ton per kapal, bahkan bisa lebih dari 2.000 ton per kapal. Adapun, pinisi daya angkutnya sekitar 500-1.000 ton per kapal. ”Faktor lain, semakin berkurangnya pinisi disebabkan bahan bakunya, yaitu kayu semakin langka, terutama kayu yang berkualitas,” katanya.

Dari pengamatan saya, cukup banyak terdapat kapal-kapal besi dengan berbagai ukuran di Pelabuhan Sunda Kelapa. Bentuk kapal-kapal besi itu terlihat cukup kokoh dibandingkan pinisi yang terbuat dari kayu. Akan tetapi, dari segi estetika, pinisi jauh lebih menawan dibandingkan kapal-kapal besi yang bentuknya terlihat kaku.

Entah hingga sampai kapan pinisi akan menghiasi Pelabuhan Sunda Kelapa. Namun, bangsa ini akan mencatat dalam sejarah abadi, pinisi merupakan salah satu perahu layar tradisional terbaik asal negeri ini.

9 Komentar

Filed under Wisata Sejarah Indonesia, Wisata Sejarah Jakarta

9 responses to “Pinisi, Sejarah Abadi di Sunda Kelapa

  1. Tina Latief

    mas, itu pendapat narasumber yang mas dapet sendiri atau gimana ya?

  2. perkembagan tehnologi mengalahkan tradisional..hehe

  3. dah lama pengen banget miniatur kapal Pinishi, tp yang agak gedean.. ternyata mahal yaa.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s