Panas Dingin di Pulau Bunga


DI BALIK PERJALANAN

Panas Dingin di Pulau Bunga

20170824dri35

Senja di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. (BY ADRIAN FAJRIANSYAH)

Mendapatkan tugas meliput Jelajah Sepeda Flores 2017 oleh Harian Kompas merupakan keberuntungan, khususnya bagi saya, Adrian Fajriansyah (DRI). Sebab, ini pengalaman pertama kali buat saya menginjakkan kaki ke wilayah Indonesia bagian timur walaupun Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur masih tergolong dalam Waktu Indonesia Bagian Tengah/WITA.

Dalam benak saya, Pulau Flores merupakan daerah yang gersang sebagaimana wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) lain. Hal ini karena stigma media yang selalu memberitakan tentang kekeringan panjang di wilayah NTT walaupun sebenarnya itu hanya terjadi di beberapa wilayah saja. Akibatnya, saya memukul rata bahwa semua wilayah NTT, termasuk Pulau Flores gersang dan panas luar biasa. 

20170824dri75

Mentari pagi di Maumere, Sikka.

20170824dri78

Tari penyambutan khas Sikka.

_MG_4894

Pesta rakyat pelantikan kepala desa di seluruh Sikka.

20170824dri67

Pesta rakyat pelantikan kepala desa di seluruh Sikka.

20170824dri65

Pesta rakyat pelantikan kepala desa di seluruh Sikka.

20170824dri68

Pesta rakyat pelantikan kepala desa di seluruh Sikka.

20170824dri69

Potret warga Maumere, Sikka.

Hal ini mempengaruhi persiapan saya ketika hendak berangkat ke Pulau Flores pada 31 Juli pagi lalu. Dari tempat tinggal saya di Palembang, Sumatera Selatan, saya hanya membawa satu buah jaket yang biasa saya gunakan untuk naik sepeda motor. Jaket itu teramat tipis. Saya pikir, jaket itu cukup untuk menghalau dingin, terutama ketika malam di Pulau Flores. Saya pikir, suhu di sana paling dingin pasti tak lebih rendah dari 25 derajat celcius.

Lalu, sesampai di Kantor Kompas di Jakarta pada 31 Juli siang, saya bertemu dengan Ketua Kompas Jelajah Sepeda Jannes Eudes Wawa atau biasa saya sapa dengan panggilan Mas Jannes. Ketika itu, Mas Jannes bertanya apakah saya sudah menyiapkan jaket. Lalu, saya jawab sudah, satu buah jaket sepeda motor. Mas Jannes terjekut dan langsung berkata, ”nanti di sana, kita bakal tidur paling sedikit di empat lokasi dingin loh Dri. Jaket mu itu ga cukup.”

Saya lalu bertanya, ”berapa suhu paling dingin di sana?” Mas Jannes menjawab, ”di Kelimutu, Ende, suhu terdingin bisa mencapai 7 derajat celcius.” Saya sontak terkejut walaupun tetap tak yakin. Namun, untuk jaga-jaga, saya akhirnya membeli jaket baru yang lebih tebal di toko peralatan outdoor tak jauh dari kantor. Di toko itu, saya pun membeli jaket berbahan polar. Pemilik toko sempat menawarkan saya membeli sarung tangan dan kaus kaki tebal. Tetapi, saya menolak karena masih tak yakin di Pulau Flores sedingin yang dikatakan Mas Jannes. Untuk itu, saya pikir beli satu jaket polar saja sudah cukup.

20170824dri70

Gereja tua peninggalan Portugis di Desa Sikka.

20170824dri71

Penenun kain khas Sikka.

20170824dri72

Penenun kain khas Sikka.

20170824dri73

Potret para penenun kain khas Sikka.

20170824dri77

Warga masih setia menggunakan kain khas daerahnya.

20170824dri76

Warga masih setia menggunakan kain khas daerahnya.

Tanggal 1 Agustus, saya bersama dua senior saya, wartawan di Batam Kris R Mada (RAZ) dan fotografer Agus Susanto (AGS) tiba di Pulau Flores. Kami melakukan beberapa liputan di wilayah Maumere, Kabupaten Sikka dan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Di dua lokasi ini, suhu cukup panas karena berada di pesisir utara Flores. Untuk sementara, dugaan ku benar. Flores itu panas. Saya pun makin yakin membeli satu jaket polar kemarin sudah sangat cukup, bahkan mungkin akan mubazir.

Namun, setiba di kawasan Kelimutu pada 4 Agustus, keraguan ku atas suhu dingin di wilayah pegunungan Pulau Flores terjawab. Ternyata, suhu di pegunungan Flores amatlah dingin. Di puncak Gunung Kelimutu, suhu bisa mencapai 7-5 derajat celcius. Padahal, gunung ini notabene tidak terlalu tinggi, yakni 1.639 meter dari permukaan laut (mdpl). Tetapi, suhu di puncaknya sudah sedingin gunung yang bertinggi lebih dari 2.000 mdpl, seperti di puncak Gunung Dempo (3.173 mdpl), Sumatera Selatan. Bahkan, ketika menunggu matahari terbit sekitar pukul 05.00 di sana, tangan saya beku dan tidak bisa digerakan.

_MG_6862

Pasar penjual kuda yang digunakan untuk belis atau mahar pernikahan di Sikka.

_MG_6856

Pasar penjual kuda yang digunakan untuk belis atau mahar pernikahan di Sikka.

_MG_6743

Pasar penjual kuda yang digunakan untuk belis atau mahar pernikahan di Sikka.

Pengalaman kedinginan di wilayah pegunungan Flores saya alami di tiga tempat lain, yakni di Kota Bajawa, Kabupaten Ngada dengan suhu terendah sekitar 14 derajat celcius, di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai dengan suhu terendah sekitar 16 derajat celcius, dan di Desa Waerebo, Manggarai dengan suhu terendah sekitar 14 derajat celcius.

Saat itulah saya berpikir saya salah perhitungan. Saya menyesal tidak membawa jaket lebih tebal, tidak membawa sarung tangan, tidak membawa kaus kaki tebal, dan tidak membawa kantung tidur. Padahal, semua peralatan itu saya punya. Penyesalan ini makin memuncak ketika saya ikut kamping di kaki Kelimutu pada 14 Agustus. Saya tidak bisa tidur karena suhu terlalu dingin. Padahal, saya sudah memakai jaket dua lapis, memakai sepatu, memakai sarung, dan memakai kupluk atau penutup kepala. Bahkan, karena tidak bisa tidur, saya harus pergi ke salah satu mobil panitia Jelajah Sepeda Flores untuk menghangatkan diri.

20170824dri82

Pagi di Larantuka.

20170824dri85

Pagi di Larantuka.

20170824dri83

Pagi di Larantuka.

20170824dri93

Lokasi Semana Santa di Larantuka.

20170824dri94

Panorama laut dan gunung di sekitar Larantuka.

20170824dri90

Ibu-ibu Larantuka menanti ikan di pagi hari.

20170824dri79

Bocah Larantuka yang ceria.

20170824dri95

Bocah Flores Timur yang selalu ceria di tengah keterbatasan.

20170824dri98

Bocah Flores Timur yang selalu ceria di tengah keterbatasan.

_MG_9091

Potret perempuan Flores Timur.

_MG_9118

Potret warga Flores Timur.

20170824dri102

Rumah di pesisir Flores Timur.

Bunga sebenarnya

Tidak salah bila misionaris Portugis memberi nama pulau seluas kurang lebih 14.300 kilometer persegi ini dengan istilah Flores atau bunga. Pulau yang sebelumnya dikenal dengan istilah Nusa Nipa (Pulau Ular) ini memang seperti bunga, indah dan menawan. Betapa tidak, hampir setiap sudut daerah ini merupakan lokasi wisata. Pesisir utaranya terkenal dengan pantai-pantai berpasir putih nan menawan. Pesisir selatannya terkenal dengan laut perawan yang biru jernih. Wilayah pegunungannya hijau mempesona.

Belum puas dengan pesona alamnya, mata kita pun dimanjakan dengan kekayaan adat, budaya, dan hasil alam wilayah ini. Flores terkenal sebagai surganya sejarah. Di sini, segenap adat istiadat dan budaya tua masih terjaga, terutama peninggalan masa megalitikum. Hal ini bisa dilihat jelas di sejumlah perkampungan adat di sana, antara lain Kampung Bena di Ngada, Kampung Todo di Manggarai, dan Kampung Waerebo di Manggarai.

_MG_9392

Pagi di Kelimutu.

_MG_9507

Pagi di Kelimutu.

_MG_9380

Pagi di Kelimutu.

20170824dri119

Pagi di Kelimutu.

IMG_8614

Pagi di Kelimutu.

IMG_8014

Potret warga Kelimutu.

IMG_8020

Potret warga Kelimutu.

IMG_8505

Potret warga Kelimutu.

Di kampung-kampung itu, warga masih menjaga bentuk asli rumah adat yang didirikan leluhurnya sejak masa megalitikum. Jejak megalitikum pun masih tampak jelas di kampung-kampung tersebut, seperti keberadaan menhir atau batu tegak untuk memuja arwah leluhur di tengah kampung. Usia kampung-kampung tersebut diperkirakan paling muda sekitar 1.200 tahun.

Selain memelihara rumah adat, warganya pun masih kuat menjaga tradisi yang diwariskan nenek moyangnya. Salah satu tradisi kuat itu, antara lain menenun. Wanita Flores wajib bisa menenun sebelum menikah. Menenun merupakan lambang kemandirian wanita Flores. Lewat menenun, wanita Flores bisa memastikan keberadaan pakaian untuk anggota keluarganya. Mereka pun bisa menjual hasil tenun itu untuk menambah penghasilan keluarga. Hingga kini, di kampung-kampung itu, kita masih bisa melihat wanita-wanita Flores menenun di depan halaman rumah. Bahkan, sebagian masih menenun menggunakan benang alami, seperti yang terbuat dari kapas.

20170824dri106

Hasil alam di pegunungan Ende.

20170824dri107

Sawah terasering di Ende.

_MG_0100

Pantai Batu Hijau di Ende.

20170824dri108

Pantai Batu Hijau di Ende.

_MG_0130

Pantai Batu Hijau di Ende.

Orang Flores pun masih sangat menjaga tradisi dalam menerima tamu. Bahkan, ketika rombongan Jelajah Sepeda Flores tiba di kabupaten-kabupaten yang dilewati, masyarakat maupun pemerintah setempat menyelenggarakan tradisi penyambutan secara adat. Di wilayah Manggarai, dari Manggarai Timur, Manggarai, hingga Manggarai Barat, paling sedikit rombongan tersebut tiga kali disambut secara adat. Setiap disambut, perwakilan rombongan mendapatkan ayam dan moke, minuman keras khas Flores yang terbuat dari tanaman lontar.

Setelah terpesona dengan adat istiadat dan budayanya, kita masih akan terpesona dengan hasil alam Flores, seperti kopi. Bahkan, salah satu kopi dari wilayah Flores terkenal sebagai salah satu kopi terbaik di dunia, siapa tak kenal kopi arabika Bajawa dari Ngada. Jauh sebelum kopi arabika Bajawa terkenal, Flores sudah dikenal dengan beberapa kopi lain dari wilayah Manggarai, seperti juria colol dan yellow caturra.

_MG_0498

20170824dri3

Ibu-ibu penyortir kopi Bajawa.

20170824dri6

Menjemur kopi Bajawa.

20170824dri7

Menyortir kopi Bajawa.

20170824dri8

Warga Bajawa duduk di depan rumah adanya, Saoadha.

_MG_0778

Potret perempuan Bajawa.

_MG_0737

Bocah Bajawa.

20170824dri81

Rumah adat Bena di Ngada.

20170824dri84

Rumah adat Bena di Ngada.

20170824dri86

Rumah adat Bena di Ngada.

Bahkan, juria colol dipercaya sebagai induk dari seluruh kopi di pulau itu. Sebab, kopi pertama di Flores ditanam di daerah Colol yang kini termasuk di Kabupaten Manggarai Timur. Pengakuan atas mutu kopi colol, antara lain hadiah bendera Belanda dari Kerajaan Belanda kepada petani setempat pada 1937. Sekarang, bendera itu menjadi pusaka di wilayah tersebut.

Lepas terpesona dengan hasil alam, kita kembali terpesona dengan kekayaan fauna di pulau itu. Di ujung barat Flores, tepatnya di Manggarai Barat terdapat sebuah pulau yang menyimpan satwa zaman dinosaurus, yakni komodo. Reptil terbesar di dunia ini hanya ada di pulau yang diberi nama sesuai dengan satwa langka yang mendiaminya. Bahkan, pada 2012, Pulau Komodo ditetapkan sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia yang baru.

20170824dri80

Gunung Ebulobo, salah satu gunung api tertinggi di dataran tinggi Manggarai.

20170824dri60

Gunung Ebulobo, salah satu gunung api tertinggi di dataran tinggi Manggarai.

20170824dri61

Gunung Ebulobo, salah satu gunung api tertinggi di dataran tinggi Manggarai.

20170824dri62

Gunung Ebulobo, salah satu gunung api tertinggi di dataran tinggi Manggarai.

Setiap sudut indah difoto

Datang ke Pulau Flores akan menjadi kebingunan tersendiri bagi pecinta fotografi. Sebab, hampir setiap sudut wilayah Flores indah, sensual, dan menggoda untuk difoto. Bila tak bijak dalam mengambil foto, bisa dipastikan memori foto sebanyak apapun tidak akan pernah cukup untuk menyimpan foto-foto tersebut.

Hal ini yang saya rasakan ketika tiba di Pulau Padar, Manggarai Barat. Pulau yang fotonya amat terkenal yang sering menghiasi sampul majalah wisata kelas nasional maupun internasional ini sangat fotogenik. Hampir setiap sudut wilayahnya indah difoto. Sejak tiba di pulau yang terkenal dengan dua teluk di sisi kiri dan kanannya ini langsung menggoda untuk difoto. Betapa tidak, pasir pantainya putih bersih, lautnya biru jernih, pulaunya berumput hijau kekuningan nan eksotis, dan langitnya biru menggoda. Siapa pun yang melihat, pasti buru-buru ingin berfoto ria di pulau ini.

Bahkan, setiap langkah kaki saya di pulau ini berakhir dengan foto minimal tiga kali jepretan. Tak heran, dari awal naik, mencapai puncak pulau, hingga turun lagi ke bawah, saya menghabiskan ratusan kali shutter camera. Andai saja sekarang bukan zaman digital, mungkin saya sudah menghabiskan puluhan rol film hanya untuk di satu lokasi saja.

20170824dri52

Pagi di Ruteng.

20170824dri50

Pagi di Ruteng.

20170824dri48

Pagi di Ruteng.

20170824dri49

Pagi di Ruteng.

20170824dri53

Pagi di Ruteng.

20170824dri54

Danau Rana Mese, Manggarai.

20170824dri55

Sawah terasering di Manggarai.

20170824dri56

Sawah terasering di Manggarai.

20170824dri57

Sawah terasering di Manggarai.

20170824dri47

Perempuan Manggarai membawa kayu bakar.

20170824dri58

Bocah Manggarai membawa kayu bakar dan pakan ternak.

20170824dri59

Potret bocah Manggarai pencari pakan ternak.

20170824dri15

Sawah jaring laba-laba khas Manggarai.

20170824dri17

Sawah jaring laba-laba khas Manggarai.

_MG_1050

Sawah jaring laba-laba khas Manggarai.

_MG_0987

Sawah jaring laba-laba khas Manggarai.

20170824dri27

Panorama Manggarai.

20170824dri28

Panorama Manggarai.

20170824dri29

Panorama Manggarai.

20170824dri22

Bocah Kampung Todo, Manggarai.

_MG_1633

Kampung Todo, Manggarai.

_MG_1844

Warga Kampung Todo, Manggarai.

_MG_1807

Warga Kampung Todo, Manggarai.

Begitupun ketika berkunjung ke Pulau Komodo, selain melihat satwa langka itu, wilayah ini pun menyimpan banyak objek indah lain. Objek-objek itu, antara lain pantai pasir putih, kapal-kapal pesiar yang lalu-lalang, rusa-rusa liar di pinggir pantai ataupun dalam hutan, dan jika beruntung melihat sejumlah anggrek lokal.

Balik dari Pulau Komodo, kamera harus tetap siap siaga di tangan. Sebab, pantai pink pun menggoda difoto. Kali ini, bukan hanya pantainya unik karena berpasir merah muda melainkan taman lautnya yang amat eksotis. Terumbu karang bisa dilihat kasat mata dari atas permukaan laut. Jadi, walaupun tak ikut snorkling atau diving, kita pun bisa menggabadikan foto bawah laut yang indah dari atas kapal.

20170824dri91

Kampung Adat Waerebo, Manggarai.

20170824dri96

Kampung Adat Waerebo, Manggarai.

20170824dri97

Kampung Adat Waerebo, Manggarai.

20170824dri100

Upacara 17 Agustus di Waerebo, Manggarai.

20170824dri105

Upacara 17 Agustus di Waerebo, Manggarai.

20170824dri99

Upacara 17 Agustus di Waerebo, Manggarai.

20170824dri104

Upacara 17 Agustus di Waerebo, Manggarai.

_MG_9651

Warga Waerebo, Manggarai.

_MG_9714

Warga Waerebo, Manggarai.

_MG_9697

Warga Waerebo, Manggarai.

_MG_9668

Warga Waerebo, Manggarai.

20170824dri41

Pantai selatan Flores.

20170824dri42

Pantai selatan Flores.

20170824dri43

Pantai selatan Flores.

20170824dri45

Pantai selatan Flores.

Berlanjut ke manta point, kita akan menyaksikan banyak wisatawan yang menyelam untuk melihat ikan mantarai di dalam laut. Kali in, kita tidak bisa memfoto ikan tersebut dari atas kapal. Sebab, ikan itu lebih banyak di dalam laut yang cukup dalam. Namun, di atas permukaan laut, kita bisa mengabadikan foto pulau-pulau indah di sekitar wilayah tersebut. Apalagi ketika memasuki senja, matahari terbenam berada di sekitaran pulau-pulau itu. Kamera pun akan tetap berulang kali digunakan untuk memfoto momen itu.

Itulah mengapa saya selalu berkata, mendapatkan tugas ke Flores merupakan suatu keberuntungan tak terduga ibarat mendapatkan durian jatuh. Selama 19 hari, dari 1 Agustus hingga 19 Agustus di sana, tak ada satu detik waktu yang terasa bosan. Semua sudut yang terlihat merupakan pengalaman baru yang amat menyenangkan dan berharga. Pulau Flores benar-benar bunga yang menggoda siapapun yang datang ke sana. Sekali datang, pasti ingin datang kembali, begitu pula saya yang akan selalu bermimpi untuk merasakan kembali panas-dingin di Nusa Nipa. (ADRIAN FAJRIANSYAH) 

20170824dri30

Senja di Labuan Bajo.

20170824dri32

Senja di Labuan Bajo.

20170824dri33

Senja di Labuan Bajo.

20170824dri36

Pagi di Labuan Bajo.

20170824dri37

Pagi di Labuan Bajo.

_MG_3217

Pagi di Labuan Bajo.

20170824dri38

Pagi di Labuan Bajo.

20170824dri21

Pagi di Labuan Bajo.

_MG_0687

Pulau Padar, Manggarai Barat.

_MG_0683

Pulau Padar, Manggarai Barat.

20170824dri10

Pulau Padar, Manggarai Barat.

20170824dri5

Pulau Padar, Manggarai Barat.

20170824dri4

Pulau Padar, Manggarai Barat.

20170824dri14

Pulau Komodo, Manggarai Barat.

20170824dri11

Komodo di Pulau Komodo, Manggarai Barat.

20170824dri13

Komodo di Pulau Komodo, Manggarai Barat.

20170824dri12

Anggrek liar di Pulau Komodo, Manggarai Barat.

20170824dri16

Pinky Beach di Manggarai Barat.

20170824dri19

Pinky Beach di Manggarai Barat.

20170824dri20

Pinky Beach di Manggarai Barat.

20170824dri24

Kampung nelayan Bugis di lautan Manggarai Barat.

20170824dri26

Senja di kampung nelayan Bugis di lautan Manggarai Barat.

_MG_1891

Pulau Flores direkam dari atas pesawat menandakan berakhirnya perjalanan 19 hari ku di Pulau Bunga ini.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Nusa Nipa, Nusa Tenggara Timur, Pulau Flores, Wonderful Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s