Sendirian Mengarung Lautan dan Membangkitkan Kebaharian


Lintas Jakarta-Brunei

Sendirian Mengarung Lautan dan Membangkitkan Kebaharian
(By Adrian Fajriansyah 20/05/2013)

Daeng Effendy Soleman melambaikan tangan kepada sejumlah orang yang melepas pelayaran tunggalnya dari Jakarta-Bruneidengan Perahu Jukung khas Bali medio Mei 2013 lalu.

Gambar 1. Daeng Effendy Soleman melambaikan tangan kepada sejumlah orang yang melepas pelayaran tunggalnya dari Jakarta-Brunei dengan Perahu Jukung khas Bali medio Mei 2013 lalu.

Dari pinggir laut, Pantai Ancol, sejumlah kerabat dan keluarga melambaikan tangan. Mereka melepas Effendy Soleman (62) yang akan melakukan pelayaran tunggal. dengan Perahu Jukung khas Bali, dari Jakarta ke Brunei Darussalam. Tampak Gustia Ningsih (24) dan Mala Soleman (5), isteri dan anak Effendy, turut melepasnya. Walaupun gelisah, Gustia tetap tegar, sebab ini bukan pelayaran tunggal pertama yang dilakukan suaminya.

Dalam sambutannya, Effendy mengatakan, pelayaran kali ini untuk mengenang keberhasilannya berlayar tunggal dengan rute yang sama pada 25 tahun yang lalu. Melalui pelayaran itu pula, ia ingin mempromosikan kebaharian Indonesia di dunia internasional melalui Perahu Jukung khas Bali.

”Pada intinya, Effendy ingin menggugah semangat kebahariannya kepada generasi muda saat ini. Sebab, karakter kebangsaan Indonesia sebagai negara bahari mulai meluntur. Padahal, di negara ini, lautan lebih luas dibanding daratan,” ujar Ngesti Soegarda (64), Ketua Tim Ekspedisi Lintas Jakarta-Brunei, saat ditemui di Jakarta, Senin (20/5).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman mengatakan, pihaknya sangat mendukung kegiatan tersebut. ”Bukan tidak mungkin, pariwisata DKI akan dipromosikan dengan cara pelayaran tunggal ke seluruh Indonesia maupun ke mancanegara,” ucapnya.

Pecinta alam bebas

Pelayaran Effendy kali ini, merupakan pelayaran tunggal keempatnya atau kedua dengan rute Jakarta-Brunei. Pada tahun 1988, untuk pertama kalinya Effendy berlayar solo dari Jakarta ke Brunei dengan menggunakan Perahu Cadik Nusantara I. Pera

Gambar 2. Pelayaran Effendy kali ini, merupakan pelayaran tunggal keempatnya atau kedua dengan rute Jakarta-Brunei. Pada tahun 1988, untuk pertama kalinya Effendy berlayar solo dari Jakarta ke Brunei dengan menggunakan Perahu Cadik Nusantara I.

Petualang berdarah campuran Bugis Makasar (ibu) dan Ternate (ayah), sejak usia muda telah menaruh minat yang besar terhadap pertualangan alam bebas. ”Kecintaan Effendy pada dunia pertualangan alam berawal dari sang ayah yang memperkenalkannya pada kegiatan alam. Kecintaan itu terus dilanjutkannya dengan berbagai kegiatan, seperti mendaki gunung, pajat tebing, jelajah gua, hingga berlayar di laut,” ujar Diah Bambang Soleman (60), adik kandung Effendy.

Gustia mengatakan, perkenalnya dengan Effendy pun tidak lepas dari kegiatan  yang dicintai suaminya itu. Perempuan asal Bali itu mengisahkan, awal perkenalan mereka ketika Effendy terjun dalam proyek pembuatan kapal nelayan di kota kelahirannya. ”Selain karena alasan teknis, secara tidak langsung alasan Bos (Effendy biasa disapa) menggunakan Perahu Jukung khas Bali ialah untuk menghormati daerah asal saya,” tuturnya, yang menikah dengan Effendy pada tahun 2007 silam.

Pelayaran Effendy kali ini, merupakan pelayaran tunggal keempatnya atau kedua dengan rute Jakarta-Brunei. Pada tahun 1988, untuk pertama kalinya Effendy berlayar solo dari Jakarta ke Brunei dengan menggunakan Perahu Cadik Nusantara I. Perahu Cadik berjenis layar tunggal itu, dibuat Effendy di Muara Dadap, Tangerang, sekitar tahun 1987.

Dari pelayaran tunggal pertamanya itu, Effendy tercatat dalam sejarah sebagai pelayar unik kedua yang pernah singgah di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam. Pelayar unik pertama ialah Antonio Pigafetta pada abad ke-16. Kala itu, Pigafetta meneruskan pelayaran keliling dunia Magelhaens yang tewas di Filipina.

Tak seiring

Karena kecintaannya pada dunia bahari dan Indonesia, pada tahun 1998, Perahu Cadik Nusantara I itu disumbangkan Effendy ke Museum Bahari Jakarta. Tujuannya kala itu, agar perahu itu lestari dan untuk menambah koleksi di Museum Bahari.

Gambar 3. Karena kecintaannya pada dunia bahari dan Indonesia, pada tahun 1998, Perahu Cadik Nusantara I itu disumbangkan Effendy ke Museum Bahari Jakarta. Tujuannya kala itu, agar perahu itu lestari dan untuk menambah koleksi di Museum Bahari.

Karena kecintaannya pada dunia bahari dan Indonesia, pada tahun 1998, Perahu Cadik Nusantara I itu disumbangkan Effendy ke Museum Bahari Jakarta. Tujuannya kala itu, agar perahu itu lestari dan untuk menambah koleksi di Museum Bahari.

Namun, semangat bahari dari mantan wartawan tabloid Mutiara itu, tampaknya tak seiring dengan keseriusan pemerintah melestarikan dan menghidupan dunia bahari Indonesia. Buktinya, saat ini, kondisi Perahu Cadik Nusantara I sumbangan Effendy tak terawat. Perahu itu diletakkan pada suatu ruangan yang juga tak terawat. Perahu itu berdebu dan tidak ada keterangan mengenai sejarahnya. Untungnya, perahu itu masih kokoh, sebab dahulu Effendy membuat perahu itu dari marine plywood yang dilapisi epoxy.

Bahkan, Kepala Seksi Koleksi dan Perawatan Museum Bahari, M Isa mengatakan, suatu hari Effendy berkunjung ke Museum Bahari dan ia terkejut melihat kondisi perahunya yang tidak terawat. ”Kala itu, Effendy sempat berkata akan mengambil kembali perahunya bila terus-terusan tak dirawat,” kisahnya.

Kondisi tak jauh berbeda pun terlihat pada koleksi-koleksi lainnya di Museum Bahari. Sebagian besar koleksi museum itu berdebu, tanpa keterangan, dan tidak tertata dengan baik. Adapun kondisi museum itu, bila hujan kebocoran dan bila air laut pasang kebanjiran. Tentunya, kondisi itu sangat membahayakan keberadaan jejak sejarah kebaharian Indonesia yang ada di sana.

Haruskah Effendy berjuang sendirian membangkitkan semangat kebaharian di negeri ini? Semua pihak, khususnya pemerintah harus turut aktif memelihara dan membangkitkan semangat kebaharian nusantara. Jangan sampai jejak kebaharian kita musnah.

2 Komentar

Filed under Cinta Indonesia, Wisata Alam Indonesia, Wisata Jakarta, Wisata Sejarah Indonesia, Wisata Sejarah Jakarta

2 responses to “Sendirian Mengarung Lautan dan Membangkitkan Kebaharian

  1. I pay a visit every day some web sites and information sites to read content, however this web
    site offers feature based posts.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s