Sosok Muda, Pelestari Seni Topeng dari Bobung


Heri “Bagong” Agus Susanto
Sosok Muda, Pelestari Seni Topeng dari Bobung

MIMIK MUKA

Gambar 1. Heri “Bagong” Agus Susanto, sosok muda pelestari seni topeng pakem klasik asal Bobung, saat Pameran Topeng Panji di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (11/12).

Di tahun 2006 untuk menambah dana persalinan istrinya, dia berkeliling Yogya menjajahkan enam topeng karyanya ke orang-orang. Bagi Heri “Bagong” Agus Susanto (31) topeng bukan hanya benda seni biasa. Topeng memiliki makna yang sangat berarti bagi kehidupan dia dan keluarganya.

OLEH ADRIAN FAJRIANSYAH

            Bobung, desa asalnya Heri merupakan desa wisata pengerajin topeng. Sejak 1970-an, Bobung mulai dikenal sebagai sentra kerajinan kayu dan topeng.

            Namun, hanya beberapa dari pengerajin topeng yang ada di Bobung yang mampu membuat topeng alusan atau topeng pakem klasik, sisanya kebanyakan membuat topeng batik dan souvenirnya.

            Seiring perkembangan waktu, para pengerajin topeng generasi pertama yang mampu membuat topeng pakem klasik menjadi semakin berkurang. Untungnya masih ada dua sosok pengerajin yang masih mau membuat dan mencoba melestarikan pembuatan benda seni khas jawa itu.

            Heri bersama pamannya Samadi (42) adalah dua sosok pengerajin topeng pakem klasik dari desa Bobung. Selain mereka tidak ada yang membuat topeng pakem klasik itu.

            Menurut Heri, orang-orang di desa Bobung kurang tertarik membuat topeng pakem klasik itu, karena tingkat kesulitannya yang tinggi dan perlu kesabaran yang sangat tinggi untuk membuatnya. “Detail-detail yang ada di topeng harus dibuat dengan sabar, sedangkan banyak pemuda saat ini yang kurang sabar, sehingga lebih memilih membuat topeng untuk souvenir yang lebih mudah dan cepat pengerjaannya,” kata Heri.

            Memang alasan utama Heri dan Samadi membuat topeng pakem klasik ini karena harga jualnya yang lebih tinggi dari topeng souvenir biasa. Akan tetapi, seiring waktu mereka sadar bahwa pengerajin topeng pakem klasik semakin berkurang dan di desanya hanya mereka berdua yang membuat topeng itu. Secara tidak langsung yang mereka lakukan adalah salah satu usaha melestarikan pakem topeng klasik, agar tetap diketahui oleh generasi muda.

            Sayangnya apa yang mereka lakukan tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Padahal, orang-orang seperti Heri dan Samadi ini adalah sosok yang turut berusaha menjaga agar topeng-topeng klasik tersebut tidak punah dari tanah asalnya.

            Keadaan yang tidak menguntungkan pernah dialami oleh Heri dan Samadi, sekitar tahun 2010-an jumlah pembeli sangat turun drastis, bahkan tidak ada pembeli dalam sebulan. Padahal biasanya minimal dalam sebulan ada 1-2 topeng yang terjual. “Gara-gara keadaan seperti itu, pernah terbersit keinginan untuk berahli menjadi pengerajin topeng souvenir biasa, namun karena hati nurani tidak menghendaki, akhirnya kembali kami membuat topeng “panji” pakem klasik,” tutur Heri.

            Berkat ketekunannya, yang tetap membuat dan mencoba melestarikan topeng pakem klasik itu, Heri pernah diundang ke Bali untuk workshop membuat topeng. Di Bali, topeng hasil karya Heri pernah dibeli oleh seorang kolektor benda seni asal Hawai.

            Menurut Heri, awalnya dia adalah seorang pengerajin topeng souvenir, lalu oleh pamannya Samadi diminta untuk ikut membuat kerajianan topeng pakem klasik. “Tidak butuh waktu lama Heri sudah bisa membuat topeng pakem klasik. Selain karena dia sudah pengalaman membuat topeng souvenir, Heri juga memiliki tekat dan tekun dalam bekerja,” kata Samadi menilai Heri.

            Dari sekedar membantu membuat topeng klasik tersebut, semakin lama dia semakin menghayati dan menjiwai pekerjaan itu. “Saya tidak tahu apakah ini namanya panggilan jiwa. Yang jelas, semakin sulit topeng itu dibuat saya semakin senang,” kata Heri sambil tersenyum.

            Menurut Samadi, Heri adalah sosok generasi penerus yang memiliki minat untuk mengenal dan melestarikan seni topeng pakem klasik. “Selain dia tidak ada orang muda lainnya yang berminat untuk melakukan kerja sebagai pengerajin topeng tersebut,” terangnya

 

Jual Topeng untuk Persalinan Istri

 

Gambar 2. Beberapa topeng hasil karya Heri dan Samadi yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (11/12).

 

Heri mengenang, sebuah kisah yang tidak terlupakan berkaitan dengan profesinya sebagai pengerajin topeng pakem klasik tersebut, sekitar tahun 2006, ketika istrinya hamil anak pertama mereka dan butuh biaya persalian, Heri tidak  memiliki dana untuk persalian itu, namun sebagai suami yang bertanggungjawab segala upayah dilakukannya. Heri berkeliling kota Yogyakarta menjajahkan topeng hasil karyanya, namun di hari pertama tidak ada satupun dari enam topeng yang dibawa laku terjual.

“Baru di hari kedua topeng yang dibawa ketika itu laku, 3 topeng dibeli sebuah galeri dan 2 lainnya dibeli Pak Hermanu (Kepala Bentara Budaya Yogyakarta),” kenang Heri, yang juga seorang petani padi dan peternak sapi, jika tidak sedang mengerajin topeng.

Pertemuan dengan Bapak Hermanu tersebut, ternyata membawa Heri dan Samadi diundang untuk mengadakan pameran topeng hasil karya mereka.

Perlu diketahui Heri dan Samadi tidak bekerja sendiri, untuk menciptakan pewarnaan yang sempurna pada setiap topeng yang dihasilkan, mereka melakukan kerja sama dengan Sungging Supriadi (40) yang merupakan seorang pesungging atau pengecat topeng yang cukup baik di desa Bobung.

Dari hasil menjadi pengerajin dan menjual topeng pakem klasik itu, Heri mampu membangun rumah tembok yang cukup baik dan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya sehari-hari.

 

Pameran Topeng Panji

 

Gambar 3. Pengunjung memperhatikan tiap detail topeng klasik hasil karya Heri dan Samadi yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (11/12).

 

            Sebagai usaha untuk melestarikan seni topeng “Panji” pakem klasik yang semakin terdesak keberadaannya tersebut, Kompas melalui Bentara Budaya melakukan Pameran Topeng Panji dari Bobung di Bentara Budaya Yogyakarta pada Selasa, 18 September 2012 dan di Bentara Budaya Jakarta pada Selasa, 11 Desember 2012.

            Menurut Seniman Tari dan Maestro Tari Jawa Klasik Gaya Surakarta Theodora Retno Maruti, pameran tersebut sangat bagus untuk melestarikan dan mengenalkan kebudayaan seni topeng kepada generasi muda saat ini. Apalagi saat ini pengerajin seni topeng pakem klasik sangat dikit keberadaannya. “Kalau upayah pelestarian seperti ini tidak dilakukan, maka seni topeng akan punah,” jelas Retno.

            Di desa Bobung, Heri dan Samadi, serta Singgung sangat terkenal sebagai pengerajin topeng pakem klasik yang masih ada di tempat tersebut. Selain mereka, tidak ada generasi muda lainnya yang beminat untuk belajar dan menekuni kerja sebagai pengerajin topeng pakem klasik.

            Generasi muda saat ini pun sudah sangat jarang yang tahu dengan benda seni topeng klasik. Apabila dibiarkan berlarut tanpa upayah pelestarian dan publikasi oleh pemerintah, maka suatu hari nanti seni topeng klasik akan punah dan generasi yang akan datang hanya bisa melihat bukti keberadaannya lewat foto atau buku-buku sejarah saja.

            “Tujuan pameran ini, untuk mengangkat dan menghidupkan seni-seni pinggiran, serta  pembelaan pada seni daerah,” kata Hariadi Saptono, Direktur Eksekutif Bentara Budaya.

Bagi Heri dan Samadi serta Sungging, yang dilakukan Bentara Budaya selain sebagai usaha pelestariaan dan publikasi seni topeng pakem klasik, juga dimanfaatkan sebagai promosi gratis hasil karya mereka.

            Topeng pakem klasik tersebut, kegunaannya adalah bisa digunakan sebagai perlengkapan menari untuk beberapa tarian yang harus menggunakan topeng, seperti tari topeng Panji. Sedangkan topeng souvenir tidak bisa digunakan untuk menari karena rupanya yang sederhana.

            Tari topeng Panji sendiri adalah suatu tari yang menceritakan cerita rakyat dari masa kerajaan Jenggala dan Kediri di Jawa Timur.

3 Komentar

Filed under Berita Dari Jakarta

3 responses to “Sosok Muda, Pelestari Seni Topeng dari Bobung

  1. Dear Mr, mms,

    I am an independant researcher with partnership with the southeast asia art dép. ok the National University of Singapore.

    I am study the art of Topeng in Indonesia, and I look to find the book “Panji dari Bobung”.
    Could you tell me where can I buy it ?

    Thanks by advance,
    Best regards,
    Stanislas Dorange

    • If you want to buy the book “Panji dari Bobung”.

      Maybe you can contact this address:

      “Bentara Budaya Jakarta. Jalan Palmerah Selatan Nomor 17, Jakarta 10270 (Indonesia). Telp (021) 5483008 ext. 7910: Fax (021) 53699181. Email: bbj@bentarabudaya.com“.

      or

      “Bentara Budaya Yogyakarta. Jalan Suroto Nomor 2, Kotabaru, Yogyakarta 55224 (Indonesia). Telp (0274) 560404. Email: bby@bentarabudaya.com“.

      Hope can help you

      Best regards
      Adrian Fajriansyah

    • If you want to buy the book “Panji dari Bobung”.

      Maybe you can contact this address:

      “Bentara Budaya Jakarta. Jalan Palmerah Selatan Nomor 17, Jakarta 10270 (Indonesia). Telp (021) 5483008 ext. 7910: Fax (021) 53699181. Email: bbj@bentarabudaya.com“.

      or

      “Bentara Budaya Yogyakarta. Jalan Suroto Nomor 2, Kotabaru, Yogyakarta 55224 (Indonesia). Telp (0274) 560404. Email: bby@bentarabudaya.com“.

      Hope can help you

      regards
      Adrian Fajriansyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s